image

SM/dok

08 Desember 2017 | Suara Muria

OASE

Keteladanan Rasulullah

  • Oleh Nur Kholis Anwar

ALASANfundamental Sultan Shalahuddin al-Ayyubi dari Dinasti Malik, yang memerintah kaumnya untuk memperingati hari kelahiran (milad) Nabi Muhammad adalah agar mereka, bangsa Kurdi, bisa meniru perilaku dan sifat Rasulullah. Terlebih Allah Swt telah memilih Muhammad saw sebagai teladan bagi umat manusia yang hendak mencari rahmat dan pertolongan.

Dalam syair-syair al-Barzanji yang dikumandangkan umat Islam setiap kali memperingati Maulud Nabi, terekam dengan jelas nilai-nilai keteladanan profetik Muhammad saw. Kejujuran, moralitas, teoleransi, adil, tegas dan mengutamakan cinta kasih, semuanya ada dalam diri Rasulullah. Lantas, sudahkah kita yang mengaku umatnya meneladani apa yang Beliau lakukan?

Peringatan Maulud Nabi tidak hanya sebatas seremonial untuk megenang sejarah hidup atau perjuangan Muhammad, tetapi lebih pada aspek aksiologis penerapan tata nilai, moral dan spiritual dalam kehidupan saat ini. Itu merupakan aspek penting untuk mengubah tatanan zaman yang porak poranda, menjadi lebih arif dan bijak. Dalam Sirah Nabawiyah, budaya masyarakat jahiliyah yang membabi buta itu, seakan-akan menjadi dasar dilahirkannya Muhammad di muka bumi ini. Bagaimana tidak, masyarakat jahiliyah tidak bisa membedakan mana yang benar (haq)dan mana yang salah (bathil). Mereka bertindak dengan melaggar batas-batas moral.

Sasaran Serangan

Bersamaan dengan itu, Kakbah yang merupakan simbol keagungan umat Islam, menjadi sasaran serangan tentara gajah di bawah komando Raja Abrahah. Bahkan, dia berencana untuk meluluhlantakkan Kakbah. Akan tetapi Allah kemudian menurunkan tentara langit (burung ababil) dengan membawa batu panas dari neraka dan dijatuhkan ke tentara gajah (Surah Al-Fil ayat 1-5).

Konstruksi budaya jahiliyah itu yang kemudian menempa Muhammad menjadi manusia pilihan untuk menyempurnakan akhlak manusia. Selain itu, Beliau juga dinobatkan oleh Allah sebagai nabi pamungkas sekaligus pembawa wahyu penyempurna, yakni Alquran. John L Esposito dalam buku Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern mengatakan, Muhammad adalah pencari ideal perjalanan menuju kesempurnaan spiritual. Bahkan Muhammad ditempatkan sebagai kunci religiositas dalam berkeyakinan. Itu sebabnya, beliau menjadi sosok teladan paripurna yang tiada bandingnya.

Secara gamblang, Alquran Surah Al-Ahzab ayat 21 menjelaskan, ìsesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu semua, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.î Dipertegas lagi dana Surah Al-Qalam ayat 4, ìDan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.î Titik balik dari kedua ayat di atas, adalah bagaimana umat Muhammad bisa mengaktualisasikan keteladanan profetik itu dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.

Bagaimana cara beliau bertutur sapa dengan orang lain, memimpin dengan kejujuran, bijak dalam mengambil keputusan dan tidak pernah mempunyai sifat dendam. Lesley Hazletyon (2013) menegaskan, setiap saat dalam kehidupan Muhammad dipenuhi makna. Bahkan keidupan Beliau menjadi referensi dalam menjalankan kehidupan umat manusia.

Alquran sering kali menuturkan hal itu. Beliau tidak pernah berdusta (kizb), tak pernah khianat, tak pernah menyembunyikan wahyu (kitman), dan bukan orang bodoh (baladah). Beliau berbudi perkerti baik, lemah lembut, dan ramah. Sebagai teladan paripurna, otak Beliau sangat cerdas, suka memberi pertolongan, hatinya sangat lembut dan segala tutur katanya dapat dipercaya.

Dalam membina umat manusia, Muhammad diberikan misi suci berupa ajaran agama Islam yang universal; humanistis, egalitarianistis, demokratis, dan pluralistis. Ajaran ini sangat penting untuk diamalkan dan dimanifestasikan dalam kehiduapan bangsa saat ini. Mengingat banyaknya gerakan ektremis radikal dengan tindakan brutal dan dalih jihad menegakkan agama Allah. Menumbuhkan rasa cinta kepadanya dalam rangka meneguhkan siprit dan komitmen spiritual juga sangat penting.

Sebab, dimulai dengan cinta, kita akan lebih mengapresiasi dan selalu meneladani serta memperjuangkan visi dan misi profetiknya yang mulia, yakni membumikan Islam rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). Dalam aktualisasi keteladanan profetik ini, heterogenitas masyarakat Indonensia justru menjadi titik tumpu untuk memulai itu semua. Keberagaman entis, kebudayaan, agama, ras, maupun suku, harus dipahami secara ontologis sebagai kondisi eksistensial penyatuan keberagaman.

Heterogenitas itu juga yang membuat Muhammad mampu mengelola kota Madinah yang awalnya penuh dengan permusuhan, berubah menjadi menjadi kota harmonis dan menjunjung tinggi perbedaan. Sudah sepatutnya, kita sebagai umat Muhammad meneladani perilaku dan sifat Beliau, sebagai bekal untuk menata kehidupan yang lebih baik. (H49-14)

Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Hasyim Asy’arie Yogyakarta

Berita Lainnya