image

SM/Abdul Muiz - JAMAS BENDAPUSAKA: Benda pusaka Kabupaten Blora dicuci dengan air kembang dalam penjamasan memperingati hari jadi daerah itu, Kamis (7/12). (14)

08 Desember 2017 | Suara Muria

Pagi Dicuci, Malam Dikirab

  • Benda Pusaka Kabupaten Blora

BLORA- Sejumlah benda pusaka peninggalan bupati Blora terdahulu menjalani ritual pencucian atau biasa disebut jamasan, Kamis (7/12). Bendabenda pusaka itu antara lain keris Kiai Bismo, sejumlah keris lain dan beberapa tombak selanjutnya dikirab pada Kamis tengah malam hingga Jumat (8/12) dini hari. Prosesi ritual yang diadakan setiap tahun tersebut diadakan dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Blora.

Prosesi jamasan dilakukan di timur pendapa rumah dinas bupati. Penjamasan benda pusaka abad ke-15 itu dipimpin Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dinporabudpar) Blora Kunto Aji dan diikuti pengurus Yayasan Mahameru dan Paguyuban Tosan Aji Toya Padasan. Adapun petugas jamasan didatangkan dari Surakarta, yakni Abah Seehin didampingi penjamas dari Blora, Meiriko Najamudin. Benda-benda pusaka tersebut dicuci dengan air kembang dan warangan.

Sebelum prosesi jamasan dimulai, terlebih dahulu dilakukan doa bersama dan syukuran tumpeng ambeng dengan lauk ayam ingkung bakar dan jajanan pasar. Peserta memanjatkan doa agar Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan kelancaran dan keselamatan selama digelarnya hajatan Peringatan Ke-268 Hari Jadi Kabupaten Blora. Selain itu, diharapkan pula agar masyarakat Blora lebih sejahtera dan bermartabat.

Kepala Dinporabudpar Kunto Aji mengemukakan, tujuan jamasan antara lain untuk melestarikan benda-benda pusaka peninggalan adipati atau bupati zaman dulu. ”Pusaka berupa keris Kiai Bismo dan beberapa pusaka lainnya ini adalah benda peninggalan pemimpin Blora zaman dahulu. Agar terawat, dilakukan prosesi jamasan setahun sekali dengan mengambil momentum hari jadi Blora.”

Menurutnya, setelah dijamasi, pusaka-pusaka tersebut pada malam harinya dikirab keliling kota Blora. Kirab yang mengambil start dan finis di pendapa rumah dinas bupati tersebut diikuti Bupati Djoko Nugroho, Wakil Bupati Arief Rohman, pejabat Pemkab Blora serta sejumlah tokoh masyarakat. Semua peserta kirab mengenakan busana adat Jawa, memakai beskap dan jarik batik, blangkon serta selama prosesi tidak boleh berbicara (laku bisu). Mereka hanya diperkenankan berdoa di sepanjang jalan yang dilewati dalam kirab benda pusaka tersebut.(H18-14)

Berita Lainnya