08 Desember 2017 | Ekonomi - Bisnis

Aset Bank Jateng Syariah Rp 3,7 T

  • Raih Penghargaan Kinerja dan Inovasi Terbaik

JAKARTA- Bank Jateng Syariah (BJS) mendapatkan penghargaan Kinerja dan Inovasi Terbaik Unit Usaha Syariah kategori Bank Pembangunan Daerah (BPD) dalam Anugerah Syariah Republika.

Penganugerahan berlangsung di Hotel JW Marriot, Jakarta pada Rabu (6/11) malam. Direktur Operasional Unit Usaha Syariah Bank Jateng Hana Wijaya menyambut baik pencapaian Bank Jateng yang menyabet dua gelar sekaligus yakni kinerja serta inovasi terbaik. Dari sisi kinerja keuangan, BJS mencatatkan pertumbuhan yang positif. Sampai 30 November 2017, realisasi total aset Bank Jateng Syariah mencapai Rp 3,7 triliun atau 127,49?ri target yang ditetapkan.

Kemudian, total Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai 2,82 triliun atau 213,58?ri target. Lalu, pembiayaan mencapai Rp 2,1 triliun atau 101,89?n laba usaha mencapai Rp 73,44 miliar atau 127,2%. Dibanding tahun lalu, perolehan total aset tumbuh 50,61% (year on year), DPK tumbuh 86,08%, pembiayaan tumbuh 70,45%, dan laba usaha tumbuh 73,79%.

Adapun target 2018, Hana menyebutkan total aset diperkirakan mencapai Rp 5,5 triliun, DPK Rp 3,6 triliun, pembiayaan Rp 3,4 triliun dan laba usaha Rp 90,5 miliar. ’’Kinerja keuangan semua on track. Pada 2016, total aset semula Rp 3 triliun sekarang mengarah ke Rp 4 triliun. Mudahmudahan tahun depan target perolehan aset Rp 5 triliun bisa kita wujudkan,’’ ungkapnya kepada Suara Merdeka usai menerima penghargaan.

Hana menambahkan dari sisi penghargaan kategori inovasi terbaik, salah satunya adalah Bank Jateng berhasil menginisiasi pembiayaan sindikasi untuk proyek infrastruktur jalan tol Soreang-Koja di Bandung, Jawa Barat yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo beberapa hari lalu. ’’Soreang-Koja itu kita inisiasi melibatkan para BPD-BPD untuk ambil bagian di proyek infrastruktur, kemarin baru diresmikan Presiden Jokowi, ini menggembirakan bagi kami,’’ tambahnya.

Selain itu, Bank Jateng juga dipercaya menggodok instrumen investasi baru mudharabah muqayyadah milik industri perbankan syariah di Tanah Air. Rencana tersebut, menurutnya, masih dimatangkan bersama Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). ’’Ini kami maksud akan jadi terobosan baru bagi industri perbankan syariah ke depan karena tidak perlu menggandeng perusahaan sekuritas tetapi dengan BPKH.

Taspen yang punya pembiayaan jangka panjang dengan akad mudharabah muqayadah.’’ Adapun sektor yang fokus dijadikan tujuan investasi adalah pendidikan dan rumah sakit atau kesehatan. Menurutnya, kedua sektor tersebut sejauh ini tidak mengalami kendala berarti. Bank Jateng akan menggandeng ormas Islam seperti Muhammadiyah dan NU yang bergerak di bidang pendidikan.(J10-74)

Berita Lainnya