08 Desember 2017 | Fokus Jateng

Enam Tahun Berbaring Sakit di Lantai Tanpa Alas

SEMARANG- Kumaidi (65) hanya bisa berbaring lemah di rumahnya, kampung Tambaklorok RT 1 RW 13 Kelurahan Tanjungmas, Semarang Utara. Dia tak bisa beraktivitas apa pun, bahkan untuk bangun dari tidurnya pun susah. Kesehariannya ia habiskan berbaring di ruang tamu berukuran sekitar 3x4 meter.

Lantai rumahnya masih plesteran, sebagian dindingnya sudah mulai rapuh. Begitu juga dengan cat temboknya yang mulai mengelupas. Sementara Kumaidi tidur di lantai tanpa alas. Kondisi tersebut masih ditambah ancaman banjir dan rob yang sewaktuwaktu datang.

"Bapak (suami) sudah tidak bisa apa-apa, katanya menderita stroke. Sudah enam tahun ini sakit, kalau ada uang ya kami bawa ke dokter, soalnya kami belum punya kartu BPJS Kesehatan," kata sang istri Sumarni (55) mendampingi suaminya saat menerima santunan dari jajaran pengurus DPD Partai Hanura Jateng, belum lama ini.

Siang itu, kondisi rumah Kumaidi lebih ramai dan tak seperti biasanya. Adapun lokasi kampungnya terbilang sempit dan hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki serta sepeda motor. Kunjungan pengurus partai yang genap berusia 11 tahun pada 21 Desember itu mendapat perhatian dari warga sekitar.

HUTPartai Hanura

Tak banyak kata yang keluar dari mulut Kumaidi saat ditanya kondisi kesehatannya. Ia terlihat lemas, pandangan matanya kosong. Sementara badannya sudah sangat kurus dan hanya kulit yang masih melekat pada tulangnya. Saat dikunjungi, ia hanya mengenakan sarung tanpa baju. Tangan kanannya gemetar saat menerima sebotol air mineral dari Ketua DPD Partai Hanura Jateng, Bambang Raya. "Kami sengaja mengunjungi orang sakit, sekaligus kami beri santunan, begitu juga makanan, pakaian, selimut, kasur, bantal dan lainnya.

Sebelumnya kami menerima laporan kalau Kumaidi kondisinya memprihatinkan. Kunjungan ini dalam rangka HUT Ke-11 Partai Hanura," kata Bambang. Bersamaan kegiatan itu, mereka mendatangi rumah milik Irawati (35) warga yang juga tinggal di RT 1 RW 13. Pihaknya berencana merenovasi rumah yang hanya terbuat dari bambu tersebut. Adapun Irawati selama ini tinggal bersama empat anaknya.

Sama halnya yang dirasakan warga lain, ia selalu was-was bila hujan dan rob datang tiba-tiba. "Kami ada kegiatan bedah rumah di sejumlah tempat, salah satunya di Tambaklorok. Kami lihat kondisi rumah dulu, setelah itu kami gambarkan rancangan rumahnya, kalau pemilik setuju langsung kami kerjakan. Sebagai puncak kegiatan HUT, kami adakan apel kader di Marina Convention Center Semarang pada 21 Desember," ujar Bambang.(ftp-54)

Berita Lainnya