07 Desember 2017 | Ekonomi - Bisnis

Sektor Properti Melambat, Pengembang Dorong Penjualan

SEMARANG- Kendati perlambatan sektor properti diperkirakan akan terus berlanjut namun para pengembang mencoba mendorong penjualan perumahan untuk bisa merealisasikan target hingga akhir tahun ini. Dalam Property Expo Semarang yang berlangsung di Mall Ciputra 6-17 Desember mendatang, 17 pengembang perumahan mulai dari kelas menengah hingga menengah atas berharap berkah akhir tahun dari industri properti khususnya di wilayah Semarang dan sekitarnya. ”Yang pasti tahun lalu lebih bagus dari tahun ini mungkin daya belinya mengalami penurunan. Tapi ini akan kita evaluasi lagi khususnya untuk teman-teman developer dan dari perbankan untuk bisa memberikan suku bunga KPR yang lebih menarik,” kata Dibya di sela pembukaan pameran di Mal Ciputra, Rabu (6/12).

Dibya menjelaskan, meski belum menghitung secara keseluruhan pencapaian sepanjang tahun ini hingga November tetapi geliat penjualan perumahan memang tidak sebagus beberapa tahun ke belakang. ”Ada sekitar 450 unit tahun lalu tetapi kita belum berhitung lagi targetnya sih seharusnya 600-an unit. Itu pernah kita capai di 2015 tetapi kita lihat saja pameran REI yang terakhir ini mudah-mudahan bisa mendongkrak penjualan,” ujarnya.

Rumah yang dipamerkan sendiri dijual mulai Rp 300 jutaan hingga di atas Rp 1 miliar termasuk di dalamnya juga hunian vertikal dan landed house dengan berbagai konsep. Beberapa pengembang yang berpartisipasi diantaranya Candiland Apartment & Hotel, CitraSun Garden, Graha Candi Golf, Kini Jaya Indah, Citra- Land BSB City, BSB Village, Jaya Metro, PTFasat Indonusa, Bukit Wahid Regency, Tamansari Majapahit, Bukit Elang Residence, Perumnas dan Griya Lestari Ngaliyan.

Isu Perpajakan

Terpisah Ekonom Unika Soegijapranata Ika Rahutami menilai, perlambatan sektor properti ini salah satunya juga dipengaruhi oleh isu perpajakan yang membuat masyarakat cenderung menunggu. Sebenernya peluang untuk pengembangan real estat dengan tipologi untuk kelas menengah atas masih cukup besar mengingat pengeluaran terbesar ini 20% terjadi pada kelompok masyarakat dengan level pendapatan menengah atas. ”Saat pola konsumsi relatif stabil artinya peluang mendirikan real estate untuk segmen menengah atas masih cukup besar tapi memang tidak banyak karena hanya 20?ri jumlah penduduk. Daerah pinggiran saat ini juga terus berkembang karena cari di kota sangat mahal tentu ini bisa digarap termasuk juga memunculkan kota satelit baru dengan fasilitas lengkap,” tutur Ika.(J14-74)

Berita Lainnya