07 Desember 2017 | Internasional

Bentrok Terbaru di Yaman Renggut 234 Jiwa

SANAA- Bentrok terbaru di Ibu Kota Yaman, Sanaa, antara pasukan loyalis mantan presiden Ali Abdullah Saleh dan pemberontak Houthi telah menewaskan sedikitnya 234 orang dan melukai 400 lainnya sejak 1 Desember 2017. ”Sekarang ada 400 korban terluka yang dilaporkan dan 234 korban tewas,” kata juru bicara Komite Palang Merah Internasional (ICRC) Soumaya Beltifa, Rabu (6/12).

Mantan presiden Saleh (75) tewas ditembak pemberontak Houthi ketika hendak melarikan diri dari Sanaa pada Senin (3/12).Beberapa hari kemudian, Tarek Mohammed yang merupakan komandan pasukan loyalis Saleh juga terbunuh di kota yang sama. Tarek yang merupakan keponakan Saleh terlibat bentrok sengit dengan pemberontak Houthi yang didukung Iran.

Sejak konflik Yaman pecah sekitar tiga tahun tahun lalu, Houthi menguasai Sanaa. Usai mendiang Saleh berpindah kubu dengan berpihak ke koalisi pimpinan Arab Saudi, pertempuran sengit pecah antara pasukan loyalis Saleh dengan Houthi sejak Minggu (3/12) malam waktu setempat.

Meskipun tidak lagi menjabat, sosok Saleh masih dianggap berpengaruh di Yaman dan memiliki banyak loyalis.

Mati Martir

Dalam pernyataan yang dirilis oleh Partai Kongres Rakyat Umum (GPC) yang dibentuk dan pernah dipimpin oleh Saleh, disebutkan bahwa Tarek mengalami luka parah saat bentrok dengan pemberontak Houthi. Disebutkan ada serpihan peluru yang bersarang di dalam organ dalam Tarek.

Dia dinyatakan tewas usai dilarikan ke rumah sakit setempat. ”Dia mati martir saat berhadapan dengan milisi pengkhianat dan penikam dari belakang, Houthi,” demikian bunyi pernyataan GPC. Pada Senin (4/12), Houthi mengklaim telah membunuh Saleh dengan menembaknya hingga tewas di Sanaa. Pembunuhan dilakukan setelah Saleh berpaling dari Houthi dan menyatakan dirinya terbuka untuk berunding dengan koalisi pimpinan Arab Saudi untuk membahas solusi konflik Yaman. Konflik Yaman yang berlangsung selama tiga tahun terakhir ini telah menewaskan lebih dari 8.750 orang, terutama setelah Arab Saudi dan pasukan sekutunya menggelar operasi militer di Yaman.

PBB menyebut konflik Yaman sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia saat ini. Secara terpisah, putra mendiang Saleh, Ahmed Ali Saleh, telah bersumpah akan membalas dendam kematian ayahnya. Ahmed Ali yang pernah menjadi tahanan rumah di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, memberikan pernyataan publik pertama usai kematian ayahnya.(afp-25)

 

Berita Lainnya