07 Desember 2017 | Hukum

Politikus PKS Didakwa Terima Rp 11 M

  • Dugaan Korupsi Program Aspirasi

JAKARTA- Anggota Komisi V DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Yudi Widiana Adia, didakwa menerima Rp 6,5 miliar dan 354.300 dolar AS (sekitar Rp 4,6 miliar) dari pengusaha terkait “program aspirasi” pembangunan jalan dan jembatan di Maluku dan Maluku Utara. Uang itu, menurut jaksa penuntut KPK, diterima dua kali. Pertama Rp 4 miliar dari Komisaris PT Cahaya Mas Perkasa So Kok Seng alias Aseng.

“Terdakwa Yudi Widiana Adia selaku anggota Komisi V DPR 2014-2019 bersamasama dengan Muhammad Kurniawan Eka Nugraha menerima hadiah berupa uang Rp 2 miliar dan Rp 2 miliar dalam bentuk rupiah dan dolar AS dari Sok Kok Seng alias Aseng selaku komisaris PT Cahaya Mas Perkasa karena telah menyalurkan usulan proyek pembangunan jalan dan jembatan di wilayah Balai Pelaksanaan Jalan Nasional IX (BPJN IX) Maluku dan Maluku Utara,” kata jaksa penuntut KPK, Iskandar Marwata, dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (6/12).

Yudi sebagai angota DPR dapat mengajukan usulan program aspirasi kepada Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk masuk ke Daftar Isian Perencanaan Anggaran (DIPA) Kementerian PUPR. Awalnya, pada April 2014, Yudi bertemu dengan Kurniawan, mantan staf honorer FPKS di Komisi V. Saat itu Kurniawan menyampaikan, Aseng minta beberapa proyek agar dijadikan “program aspirasi” Yudi.

Kurniawan lalu menghubungi Aseng agar menyiapkan commitment fee jika usulan disetujui Kementerian PUPR, yaitu pelebaran jalan Kobisonta-Banggoi, pelebaran jalan Bula-Banggoi, pelebaran jalan Bula- Waru-Badanra dan pembangunan jalan Pasahari-Kobisonta. “Karena pekerjaan sudah diakomodasi Kementerian PUPR, terdakwa menyampaikan kepada Kurniawan terkait uang komitmen dari Aseng agar diselesaikan melalui Paroli alias Asep,” tambah jaksa.

Pada April 2015, Aseng memberikan uang komitmen secara bertahap kepada Yudi melalui Kurniawan yaitu Rp 2 miliar pada Mei 2015 di basemen Hotel Alia Cikini Jakarta dan Rp 2 miliar dalam bentuk mata uang rupiah dan dolar AS pada Mei 2015 di kamar di Alia Cikini. Kurniawan lalu menyerahkan uang itu ke Paroli pada 12 Mei 2013 sekitar pukul 23.00 di SPBU tol Bekasi Barat.

Kurniawan lalu melapor ke Yudi melalui SMS dengan mengatakan “semalam sdh liqo dengan asp ya” dan dijawab Yudi “Naam, brp juz?”, dijawab Kurniawan “sekitar 4 juz lebih campuran”. Kurniawan kembali melaporkan “itu ikhwah ambon yg selesaikan, masih ada minus juz yg agak susah kemarin, sekarang tinggal tunggu yg mahad jambi” dan dibalas Yudi “Naam, yang pasukan lili belum konek lg?” kemudian dijawab kurniawan “sdh respon beberapa..pekan depan mau coba dipertemukan lagi sisanya”.

Di Jok Mobil

Pada 13 Mei 2015, Yudi menemui Paroli di parkiran apartemen dekat pintu keluar tol Baros Bandung dan menyerahkan tas berisi uang komitmen itu. Kedua, Yudi menerima Rp 2,5 miliar dan 354.300 dolar AS dari Aseng karena menyampaikan usulan “program aspirasi” yang akan dilaksanakan oleh Aseng. Pada September 2015, Yudi selaku wakil ketua Komisi V dan ketua kelompok fraksi PKS mendapat jatah Rp 500 miliar untuk “program aspirasi” termasuk usulan Aseng.

Yudi lalu memberitahu Kurniawan bahwa permintaan Aseng sudah diakomodasi pada Oktober 2015. Aseng dan Kurniawan kemudian bertemu dan disepakati uang muka komitmen adalah sekitar Rp 7 miliar yaitu lima persen dari nilai anggaran Rp 140,5 miliar. Sebagai realisasi, Kurniawan menerima Rp 2,5 miliar pada 7 Desember 2017 dari Aseng di Hotel Ibis Budget Cikini. Kurniawan lantas menyerahkan ke Paroli pada 9 Desember 2015 di SPBU tol Bekasi Barat.

Penerimaan selanjutnya pada 26 Desember di Hotel Manise Ambon. Aseng memberikan Rp 3 miliar kepada Kurniawan dan selanjutnya akan diserahkan melalui Ustara alias Agus untuk Yudi. Pemberian terakhir dilakukan pada 17 Januari 2016 di lobi Surabaya Suites Hotel, sebesar 140 ribu dolar AS yang diletakkan di jok mobil Toyota Innova Aseng, yang akan dipinjam Kurniawan untuk dibawa ke Jakarta.

Sesampainya di Jakarta, Kurniawan memindahkan uang itu ke mobil Nisan X-Trail miliknya dan meminta Yono alias Opang untuk menyerahkan ke Ustara. Yudi tidak mengajukan nota keberantan (eksepsi) untuk dakwaan itu. Yudi didakwa dengan dua pasal yaitu Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 64 ayat 1 ke-1 KUHP dengan hukuman minimal empat tahun penjara dan maksimal 20 tahun penjara dan denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp1 miliar.(D3,ant-39)

Berita Lainnya