06 Desember 2017 | Wacana

TA

Berkomitmen Menjaga Sawah Produktif

Darurat lahan persawahan tampaknya perlu digemakan di Kota Semarang. Luasan areal persawahan terus menyusut dari tahun ke tahun. Laju alih fungsi sawah terasa cepat. Kurun waktu 2015-2017, Dinas Pertanian Kota Semarang mencatat penyusutan seluas 500 hektare. Wilayah persawahan yang mengalami konversi lahan terutama di kecamatan atas seperti Gunungpati, Banyumanik, dan Tembalang. Persawahan mengalami alih fungsi menjadi tegalan dan perkebunan sebesar 60 persen, sisanya jadi areal permukiman dan industri.

Dinas mencatat pada 2015 luas sawah 2.750 hektare, saat ini 2.500 hektare. Penyusutan lahan melalui proses status pengeringan sebelum ”disulap” menjadi bangunan. Kondisi tersebut merupakan ekses dari pertambahan jumlah penduduk dan kebutuhan masyarakat semakin tinggi. Pemerintah sulit untuk mencegah pemilik sawah menjual lahan kepada pengembang. Jual-beli menjadi wilayah pribadi pemilik lahan dan pemodal. Apalagi bila tidak ada regulasi ketat mengatur perubahan tata guna lahan.

Sektor pertanian tidak lagi dilirik oleh masyarakat luas, terutama generasi muda. Hasil dari mengolah sawah tak menjanjikan dibandingkan dengan pekerjaan lain seperti pekerja pabrikan, kantoran, profesi, dan wiraswasta yang memiliki penghasilan tetap serta lebih tinggi. Harga jual lahan yang melambung tinggi, apalagi bila dikalkulasi dengan proses memproduksi padi, makin mendorong pemilik sawah melepas lahan. Hasil dari penjualan lahan bisa dimanfaatkan untuk usaha lain yang dipandang lebih ”menghidupi”.

Peralihan tersebut dikhawatirkan mengancam lingkungan alam yang berdampak pada berbagai bencana. Hujan intensitas sedang dalam kurun waktu beberapa jam di daerah atas mengakibatkan banjir di kawasan bawah, tanah longsor di perbukitan, serta sedimentasi sungai makin cepat. Kondisi ketahanan pangan juga terancam terdegradasi. Kuantitas produksi padi tergantung pada variabel hasil panen dan tingkat produktivitas. Panenan meningkat didukung faktor luas lahan dan intensitas menanam, sedangkan produksi tergantung pada budi daya di lahan yang sama.

Ancaman di depan mata ketika hasil panen tidak bergerak naik dan teknologi budi daya mengalami stagnasi. Produksi hasil sawah praktis akan mengalami penurunan jika dibiarkan terus menerus tanpa diimbangi dengan penambahan pembukaan sawah baru dan penerapan teknologi untuk mengatrol hasil panen. Sementara kebutuhan beras terpenuhi dengan mengandalkan kran impor dari negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam. Bila dibiarkan, lamban tetapi pasti areal sawah akan terus susut dan habis.

Pemerintah tidak boleh membiarkan konversi tersebut berjalan masif. Dibutuhkan komitmen dari kepala daerah untuk membuat regulasi ketat terutama larangan pengalihfungsian sawah produktif menjadi lahan kering, bahkan didirikan bangunan. Pembuatan regulasi tidak terasa sulit apabila ada political will menjaga areal sawah tetap produktif; pembukaan lahan sawah baru; dan didukung pula dengan komitmen meningkatkan kualitas irigasi teknis maupun semiteknis. Lahan abadi di Kota Semarang yang tidak boleh dialihfungsikan perlu diperluas.

Berita Lainnya