06 Desember 2017 | Wacana

TAJUK RENCANA

Stabilitas Ekonomi pada Tahun Politik

Tahun 2018 sebagai tahun politik, ditandai dengan pemilihan kepala daerah serentak di lebih dari 100 kabupaten/ kota dan provinsi, sering diasosiasikan sebagai masa penuh ketegangan. Tahun ketika kompetisi dan kontestasi politik dikhawatirkan memuncak dengan friksi, perdebatan keras, segregasi ideologis, dan hal-hal yang beraroma pertarungan. Dunia bisnis dan pengusaha pada umumnya sangat khawatir pada kondisi instabilitas dan kerawanan keamanan berbisnis.

Pendapat berbeda dikemukakan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P Roeslani. Menurutnya, seharusnya para pengusaha tak khawatir dengan adanya tahun politik dikarenakan kegiatan politik seperti itu sudah biasa dilakukan. Pandangan itu ada benarnya dan penting untuk mengingatkan semua warga bahwa optimisme dan semangat positif harus senantiasa dipelihara walaupun sikap waspada tetap diperlukan.

Dengan sikap positif, tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan sehingga tetap bersikap proporsional ketika menahan diri untuk berinvestasi atau wait and see. Sikap wait and see yang berlebihan juga akan berujung pada situasi yang tidak menguntungkan iklim bisnis serta pergerakan keuangan masyarakat. Namun demikian, sikap positif itu juga tetap dengan mengedepankan kehati-hatian (prudent) dalam pengambilan keputusan.

Sikap positif itu juga sejalan dengan kondisi ekonomi tahun depan. Di Jawa Tengah misalnya, Bank Indonesia (BI) memperkirakan perekonomian akan tumbuh lebih tinggi pada rentang 5,2%-5,6%. Prediksi yang positif itu bisa berbalik menjadi kutukan apabila direspons dengan cara pandang pesimistik dan kekhawatiran berlebihan. Terlebih penting dari optimisme itu, pemerintah dan segenap pemangku kepentingan dituntut menjaga optimisme itu berwujud nyata.

Stabilitas ekonomi sangat penting untuk dijaga bersama karena masyarakat tentu juga yang akan paling merasakan dampak dari ketidakstabilan ekonomi. Pesta demokrasi pada tahun politik juga menanti kearifan bersama karena justru momentum itu bisa dimanfaatkan sebagai pendorong aktivitas ekonomi. Harap diingat, bencana sekalipun juga membawa berkah karena setelah bencana akan banyak aktivitas membangun yang berarti juga kegairahan ekonomi.

Apalagi, pesta demokrasi jelas bukan bencana. Maka, akan lebih-lebih membawa manfaat dan menggairahkan dinamika roda ekonomi hingga ke tingkat lokal. Peredaran uang akan terdorong dan pusaran gelombang finansial akan menyentuh banyak sektor. Semua itu membutuhkan prasyarat utama, yakni kematangan politik. Dengan kedewasaan berpolitik, masyarakat akan menikmati pesta demokrasi sebagai suatu peristiwa stabilitas ekonomi yang dinamis.

Berita Lainnya