image
03 Desember 2017 | Bincang-bincang

Subroto:

Pembinaan dan Diktar Jadi Prioritas KONI

Suksesi KONI Jawa Tengah berlangsung mulus. Brigjen TNI (Purn) Subroto SPd MM terpilih dalam Musyawarah Olahraga Provinsi KONI Jawa Tengah, 25 November lalu, sebagai ketua periode 2017-2021. Dia menggantikan Hartono, yang tak mencalonkan diri kembali meski baru memimpin satu periode. Berikut perbincangan wartawanSuara MerdekaDarjo Soyat dan Krisnaji Satriawandengan pemimpin baru komite olahraga nasional Indonesia di provinsi ini.

Pak Subroto, Anda baru purnawirawan belum lagi setahun. Mengapa tidak memanfaatkan untuk istirahat, tetapi malah mencari tantangan baru?

Dalam diri seorang prajurit, pengabdian itu tanpa akhir. Jika di satu bidang sudah selesai karena faktor umur dan lain-lain, masih banyak bidang lain untuk menjadi arena pengabdian. Jadi selama tenaga dan pikiran masih sehat, saya siap berkiprah di bidang apa pun dan di mana pun.

Mengapa memilih olahraga dan KONI Jawa Tengah?

Olahraga sudah menjadi bagian hidup saya. Kuliah saya kan di olahraga IKIP (kini Unnes) Semarang. Saya juga masih menjabat Kabid Diktar (Pendidikan dan Penataran) KONI Pusat di bawah ketua Pak Tono Suratman, periode lalu dan periode sekarang. Jadi olahraga bukan hal yang asing bagi saya.

Mengapa Jawa Tengah? Saya ini wong Jawa Tengah, kelahiran Kendal. Keluarga dan kerabat saya di provinsi ini. Memang dalam karier kerja saya tidak pernah mendapat tugas di Jawa Tengah, sehingga rasanya asing bagi saudara-saudara saya di sini.

Bagaimana konsep pembinaan yang akan Anda kembangkan dalam membangun olahraga Jawa Tengah?

Langkah awal kami adalah belanja masalah. Maksud saya, saya akan mendalami permasalahan olahraga di provinsi ini, dari kekuatan, kelemahan, peluang, sampai hambatan. Yang sudah maju, kami pertahankan dan tingkatkan. Yang masih lemah atau ketinggalan terus kami gali permasalahannya untuk mendapat titik temu agar bisa meningkat. Dengan modal itu, maka kita bisa membangun olahraga Jawa Tengah agar bisa bersaing di kancah nasional, bahkan menjadi yang terbaik.

Ide-ide itu sudah kami tuangkan dalam visi-misi yang saya sampaikan pada saat Musorprov di hadapan utusan KONI kabupaten/ kota dan pengurus cabang olahraga. Pertama, kita sadari dalam penyelenggaraan keolahragaan harus selalu berpegang pada prinsip tata kelola keolahragaan yang baik dan berorientasi kepada hasil (result oriented organization) sesuai dengan wewenang.

Tata kelola yang merupakan bagian dari manajemen olahraga memiliki aspek penting dalam mewujudkan akuntabilitas kinerja, yang setidaknya harus memuat visi, misi, tujuan, dan sasaran yang memiliki arah dan indikator yang jelas atas rumusan-rumusan perencanaan strategis organisasi.

Kedua, menghadapi hasil prestasi atlet Jawa Tengah yang memperoleh peringkat keempat PON XIX 2016 (32 emas, 56 perak, dan 86 perunggu), peringkat ketiga Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) XIV (40, 39, 55), ranking keempat Pekan Olahraga Mahasiswa (Pomnas) XV (13, 16, 32) serta runner up POR Korpri XIV (5, 0, 4). Itu menunjukkan indikator keberhasilan atlet Jawa Tengah yang mempunyai prestasi cukup andal.

Namun di sisi lain, bila menghadapi provinsi lain yang masuk dalam komposisi peringkat di atas Jawa Tengah, memerlukan usahausaha peningkatan prestasi atlet yang diprioritaskan pada cabang olahraga yang mendapat medali secara berjenjang dan menyiapkan atlet pelapis pada cabang lain.

Ketiga, kuantitas data yang diperoleh saat ini adalah 19.499 atlet (data KONI Jawa Tengah 619 atlet, BPPLOP Jawa Tengah 160, dan Dinporapar 18.720); dan 2.989 pelatih (KONI Jawa Tengah 173, BPLOP 16, Dinporapar 2.797), dapat dianalisis bahwa di satu sisi Jawa Tengah memiliki potensi sangat besar dalam memajukan olahraga prestasi.

Namun di sisi lain dapat dipastikan kondisi riil kuantitas itu terdapat duplikasi jumlah atlet dan pelatih, sehingga butuh data base yang dikelola berjenjang dari induk cabang olahraga, KONI kabupaten/ kota dan KONI provinsi.

Bagaimana persiapan menghadapi Porprov 2018 dan PON 2020?

Porprov merupakan bagian dari upaya meningkatkan prestasi. Yang ini kami tinggal melanjutkan usaha yang sudah dirintis pengurus KONI periode sebelumnya. Untuk PON, tidak bisa dimungkiri siapa pun pasti berkeinginan meningkatkan peringkat atau perolehan medali. Idealnya, perolehan medali meningkat peringkat juga naik. Namun yang terbaik adalah peningkatan perolehan medali karena itu menunjukkan perbaikan prestasi di Jawa Tengah. Namun PON juga sebenarnya bukan semata-mata medali. Indikasi keberhasilan sebenarnya grafik dari prestasi setiap atlet.

Soal kepengurusan, apakah ada perampingan atau malah membengkak dari periode sebelumnya?

Saya sudah menyiapkan 45 nama pengurus. Sebelumnya ada 50, sehingga bisa dikatakan lebih ramping. Dari bidang-bidang yang ada, kami memprioritaskan Bidang Pembinaan dan Bidang Diktar. Sebab, kunci keberhasilan pada bidang pembinaan. Kemudian, jika masih ada kebuntuan, meningkatkan fungsi penataran dan pelatihan.

Untuk pembinaan, di samping seorang ketua bidang ada empat wakil ketua dengan tugas berbeda sesuai dengan kategori cabang olahraga, yakni permainan, akurasi, beladiri, dan terukur.

Bidang diktar akan diisi para akademisi dan mantan atlet berprestasi. Dengan sumber daya manusia yang kuat, bisa kita harapkan akan mencapai prestasi hebat. Saya juga akan membuat fakta integritas agar setiap pengurus tahu bidang tugas masing-masing. Jadi jangan sampai pengurus hanya papan nama, yang tidak tahu bidang tugasnya.

Soal pendanaan?

Soal dana sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, yaitu “Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib mengalokasikan anggaran keolahragaan melalui APBN dan APBD.” Namun pada pertemuan dengan Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo berjanji mencarikan bapak angkat untuk cabang-cabang olahraga. Jadi kami berharap janji beliau terwujud. (44)

Berita Lainnya