image
26 November 2017 | Bincang-bincang

Gayeng Semarang

Dilema Selembar Daun Emas

  • Oleh Abu Su’ud

ASSALAMU’ALAIKUMWarahmatullahi Wabarakatuh. Pastilah benar ketika Allah SWTmenyatakan khamr, judi, dan mengundi nasib memang ada manfaatnya, tetapi mudaratnya jauh lebih besar, maka jauhilah barang-barang itu (QS 5: 90). Karena itu, Tuhan akhirnya melarang perbuatan itu secara bertahap. Sikap manusia berbeda-beda menanggapi barang haram itu, terutama khamr. Misalnya, para ulama menanggapi khamr tetap haram. Namun khamr ditafsirkan bermacam-macam di Indonesia. Pertama, khamr dalam arti minuman keras dilarang secara selektif oleh pemerintah dan penjualannya dikontrol. Kedua, daun ganja. Dahulu tak dilarang karena untuk campuran bumbu masakan di Aceh. Namun akhirnya dilarang karena dianggap golongan narkotik. Ketiga, khamr dalam arti tembakau. Sikap ulama berbeda- beda mengenai tembakau, baik sebagai bahan rokok maupun susur kelengkapan makan sirih atau nginang.

Dengan demikian penanaman tembakau tidak dilarang. Begitu juga penjualan rokok secara tegas tidak dilarang, tetapi dikendalikan. Namun pengisap rokok diduga bisa mendapat akibat buruk, seperti batuk, kanker paru, dan impotensi. Termasuk akibat buruk bagi perokok pasif, sehingga pemerintah hanya bisa melarang untuk tak merokok di sembarang tempat.

Sementara itu, pemerintah mendapat keuntungan berupa cukai tembakau. Jadi sepertinya ada nuansa simbiosis mutualisme di antara petani tembakau, pengusaha rokok, buruh pekerja pabrik rokok, konsumen rokok, dan pemerintah. Karena itu, tembakau pantas disebut ”daun emas” yang bisa mendatangkan keuntungan materi. Sampai-sampai Kabupaten Kendal yang juga memproduksi tembakau membuat gerbang kota dengan lembaran daun emas raksasa.

***

SAMPAIkelas IV SD, saya tinggal bersama orang tua di kota kawedanan Comal di pantura. Jajaran ruko di jalan paling ramai dihuni oleh berbagai kalangan etnis. Cuma dua keluarga orang Jawa, yaitu pemilik warung makan dan keluarga kami. Di kanan dan kiri kami orangorang India, Tionghoa, dan Arab. Orang tua kami membuka toko tembakau yang sangat laris. Bapak dan Ibu perokok.

Ternyata Ibu ahli menyeleksi tembakau yang masih dalam gulungan (bal-balan). Ibu menusukkan besi panjang ke tengah-tengah gulungan tembakau, lalu mencium besi penusuk, dan Ibu bisa menerka berbagai kualitas tembakau satu gulungan. Oh, iya, waktu kelas II SD saya sudah belajar merokok. Namun saya cepat merasa pusing dan mabuk, sehingga cepat-cepat pulang ke rumah. Ibu tidak marah, tetapi memeluk saya dan segera mengeloni di kasur. Akibatnya, saya tak merokok lagi sampai sekarang. Berbeda dari kakak laki-laki saya, yang terbiasa merokok sampai akhir hayat. Dia meninggal pada usia kira-kira 60 tahun. Sampai sekarang, satu dari dua anak laki-laki kakak saya perokok. Sampai sekarang dia masih merokok, meski dokter spesialis urologi dan istrinya dokter spesialis paru-paru. Setiap kali diingatkan untuk berhenti merokok oleh bapak-ibunya serta saya dan istri saya, dia selalu bergurau mengatakan, ”Dalam hal merokok, saya pengikut NU.” Dan, dia terus merokok.

Para ulama NU dalam fatwa tak pernah mengharamkan rokok. Paling-paling hanya menganggap merokok makruh. Berbeda dari ulama Muhammadiyah, yang secara resmi dan terbuka memfatwakan merokok haram. Namun beberapa teman saya bergurau, ulama Muh a m m a d i y a h berbeda pendapat mengenai hukum merokok.

Dalam Islam ada empat mazhab yang sering berbeda paham dalam menentukan hukum, yaitu Syafi’i, Hambali, Maliki, dan Hanafi. Nah, di Muhammadiyah ada dua mazhab mengenai hukum merokok. Pertama, Syafi’iyah yang melarang merokok. Kedua, Malikiyah yang tidak melarang merokok. Syafi’iyah adalah pengikut pendapat Buya Syafi’i Maarif yang sama sekali tidak suka merokok, sedangkan Malikiyah pengikut Kiai Malik Fajar yang perokok kuat. Nah, kalau begitu, bagaimana enaknya sikap kita terhadap khamr ketiga, yakni merokok? Sulit sekali kita melarang secara terbuka orang-orang untuk tidak merokok. Palingpaling pemerintah hanya bisa memberitahukan betapa bahaya merokok, termasuk imbasnya sangat berbahaya terhadap perokok pasif. Paling-paling pula pemerintah hanya bisa berusaha mengurangi jumlah perokok dengan menaikkan harga rokok.

Pemerintah tetap mendapat masukan berupa uang cukai tembakau, petani tembakau tetap subur, pengusaha rokok tetap makmur, para buruh pabrik rokok ikut makmur, perokok tetap menjamur. Sementara itu, sebagian uang cukai tembakau bisa dipakai membayar BPJS dari orang yang terkena penyakit akibat merokok. Itulah dilema yang tetap berada di muka kita, baik yang antirokok maupun setuju merokok. EeeÖ tahu-tahu ada produk terbaru rokok tanpa tembakau bernama rokok elektrik. Wah, ini masalah baru, yang tampaknya menimbulkan penyakit baru. Ya, sudah, apa mau dikata. Wallahu’alam. Sampai jumpa lagi. Tetap sehat tanpa rokok! Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.(44)

Berita Lainnya