19 November 2017 | Bincang-bincang

GAYENG SEMARANG

Makanan

  • Oleh Mudjahirin Thohir

DALAMpergaulan antarteman, kita bisa menyapa dengan ucapan, ”Ceritakan pada saya apa yang Anda makan, maka saya akan tahu siapa Anda.” Itu menggambarkan makan dan pilihan menu makanan tak sekadar urusan ketubuhan. Namun juga berelasi dengan status sosial, selera, bahkan agama yang dianut.

Dari sudut itu, makanan tidak sematamata urusan pemenuhan kebutuhan faal manusia, tetapi juga kebudayaan. Dalam konteks kebudayaan itu pula, manusia membuat secara kreatif berbagai jenis makanan, termasuk keragaman makanan etnik. Lihat, misalnya, hidangan saat pernikahan anak Presiden Jokowi.

Orang-orang yang diundang antusias datang. Mengapa? Selain membangun prestise diri karena diundang orang nomor satu Indonesia, juga karena penasaran untuk mencicipi menu makanan khas etnik Jawa. Ada beragam jenis makanan khas Jawa disediakan, antara lain sate kere. Istilah sate kere secara konotatif bermakna sate untuk orang miskin.

Namun karena yang menyediakan Presiden, sate kere naik daun menjadi konsumsi kaum elite. Jika sate kere berwujud manusia, bisa diamsalkan kere munggah bale. Keragaman makanan khas Jawa itu oleh teman-teman peneliti di Fakultas Ilmu Budaya Undip konon lebih dari 150 jenis dan nama.

Sekadar contoh, apem, kupat, lepet, cucur, gemblong, wajik, jadah, lopis, timus, cenil, tiwul, gatot, pukis, klepon, nagasari, randha royal, randha kemulan, tahu susur, tahu bacem, sega gurih, sega tumpeng, hawukhawuk, jongkong, semar mendem. Karena banyak dan beragam, tentu bahan, cara membuat, bentuk, rasa, dan tujuannya berbeda-beda.

Dari sinilah manusia lantas mengategorisasikan makanan dalam konstruksi budaya. Makanan ikonik adalah makanan yang dari segi bentuk dibayangkan kehadiran benda lain yang serupa. Contohnya, lontong, lopis, sengkolon sebagai makanan ikonik laki-laki karena berbentuk bulat panjang.

Sebaliknya, hawughawug dan jongkong khas perempuan karena berbentuk segi tiga dan di tengah diberi gula, sehingga menghadirkan imajinasi pada alat vital perempuan. Makanan indeksis melambangkan hubungan kausalitas, sebab-akibat. Misalnya, bubur coco. Bubur itu disajikan ketika upacara mengantarkan anak berlatih berjalan di bumi.

Bubur coco dipilih sebab secara fonetis kata ”coco” mirip bunyi cocok, kata lain dari kecocok (terantuk), sehingga pembagian bubur coco dimaksudkan sebagai penolak terhadap kondisi yang buruk. Makanan simbolik adalah makanan yang menandai makna khusus seperti makanan yang dipersembahkan dalam upacara. Lihat, misalnya, jenis makanan upacara hamparan dalam pinangan dan perkawinan orang Jawa umumnya.

***

KETIKApinangan ke pihak perempuan, misalnya, utusan laki-laki menghantarkan sejumlah barang dan makanan simbolik. Di antara yang penting adalah gemblong (warna putih) dan wajik (warna merah) sebagai simbol pertemuan laki-perempuan. Pembuatan gemblong dan wajik tidak mudah, karena harus mencampur berbagai unsur lain sampai menyatu.

Itu berarti mencari dan menentukan jodoh butuh banyak pertimbangan. Dalam kognisi orang Jawa, pertimbangan itu mengacu pada bobot, bibit, dan bebet. Bobot berarti kualitas diri, baik secara lahir maupun batin. Bibit adalah asal-usul atau garis keturunan. Bebet berarti tampilan diri.

Setelah pihak perempuan menerima persembahan berbagai makanan sebagai tanda lamaran pihak lelaki, gemblong dan wajik dibagikan ke tetangga kanan-kiri; menjadi makanan indeksikal. Artinya, lewat pembagian makanan itu muncul pemahaman baru, ”Oh, tadi malam para tamu datang ke rumah X.

Itu berarti putrinya sudah dilamar.” Ketika pesta perkawinan diselenggarakan di rumah, secara tradisional sederet suguhan makanan disajikan dengan model ”piring terbang” alias dihantarkan oleh laden (pelayan). Bukan model prasmanan. Makanan apa yang disajikan? USDEK.

Singkatan dari unjukan (minuman) seperti minuman teh dalam gelas, sop, dhaharan, es, kondur (pulang). Kalau gemblong dan wajik sebagai makanan indeksikal untuk acara perkawinan, kupat-lepet merupakan makanan khas pada hari raya umat Islam.

Itu merupakan contoh makanan indeksikal karena menggambarkan sebab-akibat. Adapun makanan seperti nasi putih yang dibentuk seperti gunungan, ayam ingkung, dan pisang raja, misalnya, merupakan jenis makanan upacara. Buah pisang berwujud seperti jemari manusia. Karena itu dipakai sebagai simbol sarana permohonan kepada Tuhan.

Ayam ingkung dari kata ”ingkung” mirip secara fonemik dengan tumungkul, bermakna agar menunduk. Nasi berwujud gunungan kadang disebut nasi golong, pelesetan dari gemolong, berarti total sepenuh hati. Wujudnya lancip ke atas, menandakan pengharapan itu ditujukan kepada Dunia Atas. Jadi ketika makanan begitu bermakna, kehadiran Anda pun harus bermakna.(44)

Berita Lainnya