image
12 November 2017 | Ekspresi Suara Remaja

DGAN Makin Geliatkan Dunia Animasi

  • Oleh Sofie Dwi Rifayani

Atasvisi Presiden Soekarno, Indonesia melalui Dukut Hendranoto menciptakan animasi pertama berjudul ”Si Doel Memilih” pada 1955. Ironisnya, enam dekade kemudian bangsa ini justru lebih mengenal animasi bikinan negeri tetangga, sebutlah Upin-Ipin.

Hingga kini animasi karya luar negeri memang masih mendominasi industri animasi di Indonesia. Tapi, bukan berarti animator Indonesia tidak mendapat tempat di negaranya sendiri. Serial animasi Adit Sopo Jarwo, misalnya, murni karya anak bangsa dan secara berkala tayang di televisi. Tiap tahun industri animasi di Indonesia makin menunjukkan geliat positif. Seakan tak mau kalah dari para profesional, kalangan anak muda pun banyak yang menggeluti dunia ini.

Salah satunya adalah Dinus Goes to Animation (DGAN). Komunitas yang diprakarsai dosen Desain Komunikasi Visual Udinus (DKV) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Auria Farantika Yogananti dan mahasiswa DKV Udinus ini lahir pada 2013 lalu. Di tahun yang sama, DGAN meraih juara di Festival Film Mahasiswa 2013. Setelah tiga tahun berkiprah, DGAN sempat menyerah di tahun 2016.

”Banyak anggota awal DGAN yang skripsi dan tidak punya waktu di DGAN. Celakanya, regenerasi juga mandek sehingga DGAN terpaksa vakum,” cerita Andreas Pratama, anggota DGAN. Komunitas yang bermarkas di Laboratorium Multimedia lantai 3 Gedung D Udinus ini mati suri selama setahun. Oktober 2017, para anggota lama punya ide membangkitkan DGAN dengan merekrut anggota baru. Kali ini konsepnya beda. DGAN tak lagi khusus mahasiswa DKV melainkan terbuka bagi seluruh mahasiswa Udinus.. ”Kami percaya banyak yang tertarik dengan animasi.

Dan ternyata betul. Mahasiswa Teknik Informatika, bahkan dari Fakultas Kesehatan pun ikut perekrutan,” tutur Andreas. Nantinya DGAN akan terbagi jadi dua kelas. Kelas pertama ditujukan bagi anggota yang sudah bisa animasi dan siap diarahkan untuk mengerjakan proyek-proyek animasi. Lalu, ada pula kelas untuk pemula.

Sekali dalam sepekan anggota pemula akan dapat bimbingan dari dosen-dosen DKV. Salah satu anggota DGAN, Faiz Muhammad Yusuf menuturkan, dengan estimasi berlatih sepekan dua kali, masing-masing selama dua jam, animasi bisa dikuasai selama sebulan. Sebaliknya, jika tidak dilatih terus menerus, setidaknya butuh 3-4 bulan untuk menguasai animasi.

”Sebelum melatih animasi, kami akan terlebih dulu menanamkan kecintaan anggota baru terhadap animasi. Dan, memberi pengertian bahwa membuat animasi itu tidak sulit. Jika sudah menyukainya praktis mereka akan membuat animasi tanpa keterpaksaan,” ujar Faiz.

Kerjakan Berkelompok

Membuat animasi secara individu bukanlah hal mustahil. Namun, menurut anggota DGAN, menciptakan animasi akan terasa ringan jika digarap berkelompok. ”Tiap orang punya kelebihan dan kekurangan.

Misal si A ide ceritanya bagus tapi tidak bisa menciptakan desain karakter. Atau si B pintar animasi tapi susah menuangkan ide cerita. Dengan berkelompok kami bisa saling mengisi,” kata Andreas. Untuk memudahkan kerja kelompok DGAN terbagi jadi beberapa divisi, yakni divisi ide (storyteller), komposer, desainer karakter, background artist, animator, dan editor.

Mula-mula divisi ide akan mengajukan cerita yang akan diangkat. Selanjutnya desain karakter dibuat. Jika disetujui, giliran animasi yang dikerjakan. Pada tahap animasi, animator harus bisa menggambar karakter sesuai dengan desain awal. Akan jadi nilai plus bagi animator jika bisa menentukan gaya animasi sendiri, alih-alih mencontoh orang lain.

Biasanya gaya akan muncul secara natural seiring berjalannya waktu. Di sisi lain, di industri animasi profesional, animator dituntut bisa mengerjakan dua gaya sekaligus, baik anime maupun Disney. Pemilihan gaya itu biasanya disesuaikan dengan naskah cerita yang diminta. Andreas mewakili DGAN berharap komunitas animasi ini bisa kembali ikut kompetisi.

Sebagai info, pada 2015 lalu komunitas dengan 24 anggota ini pernah mengerjakan film animasi berjudul Trash Garden. Film yan berkisah tentang seorang anak yang ingin membersihkan lingkungan namun mendapatkan perlawanan dari teman-temannya itu diikutsertakan dalam kompetisi animasi di Amsterdam, Belanda. Sayang, keberuntungan belum berpihak ke DGAN.

”Selain kompetisi, tak menutup kemungkinan DGAN akan membuat serial animasi di Youtube. Soal itu kami memang diberi kebebasan untuk berkarya sesuai keinginan,” tutup Andreas.(63)

Berita Lainnya