image
29 Oktober 2017 | Ekspresi Suara Remaja

Gerakan Dinamis ”SATU GARIS”

DATAyang menyebut bahwa pada 2050 mendatang 32,3 persen perempuan dan 28,7 persen laki-laki di Indonesia akan terdiagnosis osteoporosis tidak bisa disepelekan. Langkah terbaik meminimalkan angka itu adalah dengan pencegahan.

Angka statistik itu mengacu pada perhitungan jumlah penduduk Indonesia saat ini yaitu sebanyak 250 juta jiwa,m. Dari jumlah tersebut sebangak 71 juta jiwa akan berusia lebih dari 60 tahun pada 2050.

“Yang paling rentan terkena osteoporosis adalah kaum hawa. Perempuan berkemungkinan mengidap osteoporosis empat kali lebih besar dibanding laki-laki,” jelas dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro (Undip), Suroto.

Suroto menyampaikan hal itu saat sesi bincang-bincang dalam kegiatan Gerakan Sayangi Tulang Cegah Osteoporosis (Satu Garis), Minggu (22/10). Penyelenggara Gerakan Satu Garis, mahasiswa peminatan Epidemiologi dan Penyakit Tropik FKM Undip menggelar acara tersebut di area Car Free Day (CFD) di Jalan Pahlawan, Semarang. “Kegiatan ini adalah tugas saat masa orientasi dari senior kami di FKM.

Kami mendapat tugas ini pada 2015, tetapi baru terwujud sekarang karena pembagian peminatan dilakukan semester ini,” jelas ketua acara, Zulfa Fatmawati Dwi Asdika. Tahun lalu mahasiswa FKM menggarap proyek amal tentang kanker, sedangkan tahun ini kegiatannya berupa sosialisasi osteoporosis.

Topik tersebut dinilai pas karena bertepatan dengan Hari Osteoporosis Sedunia yang jatuh tiap 20 Oktober. Gerakan Satu Garis diawali dengan kegiatan senam bersama. Sekitar 30-an peserta umum melebur ikut senam bersama para panitia. Untuk senam, panitia fokus mengajak pengunjung CFD usia produktif, yakni usia antara 15- 49 tahun. Senam berlangsung selama 40 menit dengan dipandu Suroto sebagai instruktur.

Sebagai timbal balik, setelah senam peserta mendapat susu gratis sekaligus leaflet berisi informasi soal osteoporosis. Kiki Filsafa Fitra, salah seorang peserta senam, mengatakan semula hanya iseng mengikuti senam. Tujuannya waktu itu tak lain supaya langsing.

“Ternyata setelah senam diberi susu dan penjelasan soal osteoporosis. Sebelumnya saya hanya tahu sedikit soal osteoporosis, tapi sekarang dapat tambahan info dari acara ini. Salah satunya bahwa osteoporosis tidak hanya menyerang orang tua, tapi juga anak muda,” ujar Kiki.

Tanpa Gejala

Osteoporosis adalah kelainan di mana ada reduksi atau penurunan dari massa total tulang. Kecepatan penyerapan (resorpsi) tulang lebih cepat ketimbang kecepatan pembentukan tulang. Tulang menjadi keropos secara progresif, rapuh, mudah patah, dan mudah retak (fraktur).

Yang patut diwaspadai, osteoporosis akibat berkurangnya massa tulang tidak disertai gejala khusus. Karena itu penyakit ini dikenal pula sebagai silent epidemic alias serangan diam-diam. Selain definisi dasar soal osteoporosis, Gerakan Satu Garis juga memberi informasi soal tanda dan gejala osteoporosis, fakta uniknya, serta cara pencegahan.

Khusus poin terakhir, panitia tak hanya menjelaskan secara teori tapi juga menggerakkan masyarakat untuk praktik langsung. Ya, senam atau olah tubuh lain merupakan cara sederhana mencegah osteoporosis. Pun meminum susu dinilai bisa menurunkan resiko osteoporosis.

Meski harus digarisbawahi bahwa bukan hanya kalsium yang dibutuhkan tulang, tetapi juga vitamin dan enzim lainnya. Agar mudah menyebarkan informasi soal osteopororis, semula panitia berencana mewujudkannya dalam bentuk teatrikal. Namun sayang, lantaran terkendala sumber daya manusia, sesi teatrikal kemudian diubah jadi bincang-bincang.

Gerakan Satu Garis makin semarak dengan kehadiran maskot tulang dan peri tulang yang diperagakan dua orang panitia. Setelah mengikuti rangkaian acara Gerakan Satu Garis, salah seorang peserta, Fajar Manes, memberi tanggapan. “Acara ini seru. Lewat acara ini pengunjung bisa mendapat pengalaman dan pengetahuan baru soal osteoporosis,” tutur Anes, sapaannya.

Ketua panitia Zulfa mewakili panitia berharap Gerakan Satu Garis dapat memberi informasi ke masyarakat tentang Hari Osteoporosis Sedunia. Juga, edukasi ihwal pentingnya menjaga kesehatan tulang, penerapan pola hidup sehat, dan langkah-langkah mencegah osteoporosis.(Sofie Dwi Rifayani-63)

Berita Lainnya