22 Oktober 2017 | Berita Utama

Urusi Santri, PPP Usulkan Pemecahan Direktorat

SEMARANG- Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di DPR mengusulkan pada pemerintah untuk memecah Direktorat Pendidikan Islam di Kementerian Agama menjadi tiga direktorat. Hal itu sangat diperlukan agar potensi santri bisa lebih diperhatikan dan memberikan peran signifikan pada pembangunan bangsa ke depan.

Ketua Umum PPP, Muhammad Romahurmuziy mengatakan, ada tiga alasan utama usulan tersebut. Pertama persoalan santri yang diangkat di di tataran pejabat eselon I akan menunjukkan besar perhatian pemerintah.

Kedua, persoalan kompleks yang dihadapi santri dan pengembangan pondok pesantren hanya bisa ditangani oleh pejabat eselon I. Ketiga, pembagian direktorat seperti itu sudah dilakukan lebih dulu oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Kemdikbud membagi urusan pendidikan dasar dan menengah tersendiri dan bahkan urusan penddikan tinggi ditangani oleh kementerian tersendiri.

‘’Perhatian pemerintah terhadap pesantren masih kurang. Anggaran yang dberikan antara dunia madrasah yang merupakan domain ponpes dibandingkan ponpes secara langsung masih cukup timpang. Maka kami mengusulkan pemecahan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam menjadi tiga,’’ kata Romi di Bandara AYani Semarang, Sabtu (21/10).

Naskah Akademis

Tiga direrkotorat yang dia maksud adalah Direktorat Jenderal Pendidikan Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Ponpes, Direktorat Jenderal Pendidikan Diniyah. Dalam proses, Fraksi PPP tengah menyusun naskah akademis pemecahan menjadi tiga direktorat tersebut. Setelah selesai, akan disampaikan pada Presiden Joko Widodo dan Menteri Agama. ”Saya berharap tahun depan bisa terwujud,” katanya.

Menurut Romi, santri memiliki peran sangat signifikan dalam pembangunan generasi bangsa. Santri dinilainya sebagai benteng moral. Terlebih lagi pada saat ini gempuran bahaya narkoba, pornografi dan liberalism lebih berbahaya. Pengaruh-pengaruh negatif itu sangat mudah menyebar melalui media sosial yang saat ini tersebar hingga pelosok desa.

Romi menegaskan, pendidikan agama di ponpes menjadi salah satu filter hal-hal negatif tersebut. Meski di sisi lain pemerintah juga melakukan filter pada situs-situs yang memilik konten negatif.(H81-50)

Berita Lainnya


SMCETAK TERKINI