Satu Tabung Elpiji untuk Melaut Dua Hari

BAGI nelayan, bahan bakar yang setiap hari digunakan untuk menjalankan mesin perahunya, sudah menguras biaya operasional. Itu pula yang dirasakan Mualimin (33). Setiap hari setidak-tidaknya harus menggunakan 3 liter bensin. Dulu, ketika nelayan masih bisa menggunakan premium, dia hanya mengeluarkan uang sekitar Rp 20.000 sekali melaut. Tetapi setelah tidak boleh menggunakan premium, nelayan seperti dirinya hanya punya dua pilihan, yaitu menggunakan pertalite atau pertamax. Tentu saja, dengan harga pertamax saat ini, yang hampir Rp 10 ribu perliter, beban operasionalnya menjadi makin berat. Karena itulah, dia hanya bisa menggunakan pertalite, yang harganya lebih murah, yaitu kurang dari Rp 8.000 per liter. Karena itulah, ada kegiatan program konversi BBM ke gas dari pemerintah, di TPI Mangunharjo, Senin (2/12), dia merasa sangat bersyukur.

Dengan adanya program tersebut, dia menggunakan elpiji 3 kilogram, dengan harga sekitar Rp 20 ribu per tabung. ‘’Kalau pakai elpiji melon ini, maka satu tabung kira-kira bisa dua hari, jadi lebih hemat,’’ kata nelayan pencari ikan, kepiting dan rajungan ini, di sela kegiatan. Penghasilannya melaut yang tidak pasti seperti di musim-musim peralihan seperti saat ini juga menipiskan kantongnya. Antara Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu yang didapatnya masih belum dipotong dengan pembelian bahan bakar, makan dan juga rokok untuk setiap harinya. ‘’Kalau pas lumayan bisa juga dapat Rp 200 ribu tapi kalau sepi begini tidak bisa dipastikan yang penting cukup saja untuk kebutuhan keluarga. Nanti kalau habis gasnya tinggal beli saja,’’ katanya.

Dengan bantuan paket yang dibagikan terdiri atas beberapa komponen, yaitu mesin penggerak, konverter kit, as panjang, balingbaling, 2 buah tabung LPG 3 kg, as panjang dan baling-baling, serta aksesoris pendukung lainnya seperti reducer, regulator, mixer, dll diharapkan bisa mengurangi beban biaya operasionalnya melaut. ”Ini kalau beli ya mahal mungkin bisa Rp 10 jutaan lebih, sangat membantu kami nelayan. Saya pribadi tidak akan menjual bantuan ini sesuai instruksi dari Kementerian ESDM dan Bu Wawali karena sungguh ini sangat kami butuhkan,” imbuhnya. Nelayan lainnya, Asrokhim (24) mengaku bisa menghabiskan sekitar 3 liter bahan bakar minyak. Usahanya melaut dari pagi hingga sore hari rata-rata Rp 100 ribuan. Dengan kapal sopek yang dimiliknya, Rokhim bisa mendapatkan sekitar enam kilogram ikan. Bapak satu anak yang sudah punya kapal sendiri sejak tahun 2012 itu rutin merawat mesin kapalnya supaya lebih awet dan tahan lama. ”Nggak seberapa karena kita kan cuma nelayan kecil saja cari ikannya ga terlalu jauh, tapi alam ini nggak bisa dipastikan. Harusnya sekarang ini bagus musimnya, tapi nggak tahu kenapa koq sulit juga,” terangnya.

Dengan program konversi ini, warga desa Tambaksari Mangkang Wetan ini berharap bisa mendapatkan banyak keuntungan dan menekan biaya untuk pembelian BBM.

Konversi ini sebelumnya juga sudah dilaksanakan bersama dengan Dinas Kelautan Perikanan Demak dan Kementerian ESDM untuk nelayan di Demak. Menurut Unit Manager Communication and CSR Pertamina MOR IV, Anna Yudhiastuti, 206 paket konversi BBM ke BBG dibagikan di Pelabuhan Perikanan Pantai Morodemak. Selain untuk nelayan kecil, pemerintah bersama Pertamina juga menyalurkan dan membagikan paket konversi BBM ke BBG ini untuk petani salah satunya yang telah terlaksana yaitu di Kabupaten Sragen pada tanggal 16 November lalu. (Modesta Fiska- 42)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar