image

Foto: suaramerdeka.com/Maulana M Fahmi

07 Desember 2017 | 21:47 WIB | Semarang Metro

Museum Mandala Bhakti Direncanakan Jadi Sentra Kuliner

SEMARANG,suaramerdeka.com- Museum Mandala Bhakti yang berada di Jalan Mgr Soegijapranata, Semarang Selatan direncanakan akan dijadikan sentra kuliner. Wakapendam IV/ Diponegoro, Letkol Arh M Ibnu Sukelan membenarkan perihal wacana tersebut. Ibnu mengatakan, sejumlah tempat kuliner yang selama ini sudah ada di area museum, akan dilakukan penataan.

"Selama ini sudah berjalan beberapa kuliner yang meramaikan sisi barat dan timur bangunan museum. Hal tersebut cukup bisa menghidupkan kawasan museum," kata Ibnu.

Terkait kapan dimulai dan selesainya penataan sentra kuliner di kawasan tersebut, Wakapendam mengaku belum tahu secara detail. Adapun pengelolaan museum saat ini ada di Bintaldam IV/Diponegoro.

Pemanfaatan halaman museum, terutama untuk bisnis kuliner, berawal dari kepemimpinan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Jaswandi saat meresmikan Kafe Wedangan D’Museum Tugu Muda yang berada di sisi timur belakang bangunan museum, pada Februari 2016 lalu.

Pada kesempatan tersebut, Pangdam secara simbolik memotong tumpeng yang kemudian diserahkan kepada Donni, selaku pengelola kafe tersebut. Kafe Wedangan D’Museum Tugu Muda merupakan unit usaha koperasi Kartika Kodam IV/Diponegoro yang diharapkan bisa meramaikan dan mengenalkan kembali Museum Mandala Bhakti yang juga merupakan ikon wisata di Kota Semarang.

Sementara itu, pemandu museum, Gandu Raharjo menambahkan, koleksi yang disimpan di museum ini terkait erat dengan peristiwa-peristiwa sejarah yang pernah terjadi di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Maret 1985 silam, bangunan itu secara resmi ditetapkan sebagai museum oleh Mayor Jenderal TNI Soegiarto.

Pengamatan di lapangan, satu di antara senjata yang disimpan dalam musem adalah kendaraan tempur bernama Canon 2 PDR Nomor 1061, kaliber 37 milimeter. Senjata buatan Australia tersebut pernah digunakan oleh prajurit Kodam IV/Diponegoro dalam berbagai tugas operasi. Sebut saja operasi penumpasan DI/TII di Jawa Tengah, Jawa Barat, Aceh dan peristiwa Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

"Pembangunan museum dengan berbagi macam koleksinya, bukan dimaksudkan untuk membanggakan diri atas prestasi yang pernah dicapai oleh prajurit Diponegoro. Namun, untuk memberikan gambaran kepada generasi penerus, betapa sulit dan berat perjuangan para pendahulu kita," katanya.

(Maulana M Fahmi /SMNetwork /CN38 )