image

Ilustrasi: Istimewa

07 Desember 2017 | 20:46 WIB | Suara Kedu

Upaya Persuasif Pemkab Terhambat Keberadaan Aktivis

  • Pengosongan Lahan NYIA

KULONPROGO,suaramerdeka.com– Upaya Pemkab untuk kembali melakukan pendekatan persuasif kepada warga terdampak yang masih tetap menolak pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) mendapat sandungan.

Pejabat dari Pemkab yang hendak menemui warga yang masih tetap menolak di wilayah Desa Glagah dan Palihan Kecamatan Temon, Kamis (7/12) dihambat oleh beberapa aktivis mahasiswa yang berada di rumah warga.

“Tadi pagi Pak Asisten (Sekda) ke sana, mencoba masuk ketemu warga tapi dihambat oleh mahasiswa, tidak boleh ketemu warga,” ungkap Sekda Kulonprogo, RM Astungkoro.

Pemkab, lanjutnya, sejak awal sudah melakukan upaya pendekatan persuasif kepada warga penolak. Upaya itu juga tetap dilakukan hingga saat ini, hanya saja keberadaan mahasiswa dari luar Kulonprogo yang berada di rumah-rumah warga dinilai justru menghambat upaya pendekatan persuasi tersebut.

“Sehingga sementara ini Angkasa Pura kami minta mengerjakan pekerjaan yang lain dulu,” tuturnya.

Menurut Astungkoro, sebenarnya dari 30 keluarga yang menolak, 15 di antaranya sudah sempat berubah sikap dan mau menerima pembebasan lahan dan pindah. Namun dengan adanya kedatangan mahasiswa, warga tersebut menjadi tidak mau menerima pembebasan lahan lagi.

“Kami harap mereka (warga penolak) bisa segera pindah dengan baik. Yang belum punya tempat tinggal silakan di rusun (rumah susu). Begitu ganti rugi cair, sambil bikin rumah, silakan tinggal di rusun gratis sampai punya rumah,” harapnya.

Astungkoro menambahkan, warga juga diharapkan mengambil uang ganti rugi yang sudah dibayarkan secara konsinyasi (penitipan) di pengadilan. Pihaknya justru kasihan dengan warga jika mereka tetap bertahan karena kondisi lingkungan tempat tinggal yang sudah tidak representatif karena sudah diratakan bahkan tidak ada aliran listrik.

“Sekolah anak-anak mereka juga menjadi masalah, kalau lampu tidak ada untuk belajar juga tidak bisa, sebenarnya ini harus menjadi pemikiran para orangtua,” imbuhnya.

Asisten Sekda Kulonprogo Bidang Perekonomian Pembangunan dan SDA, Triyono mengungkapkan, dia bersama Plt Kepala Satpol PP dan tiga orang staf berusaha masuk menemui warga penolak Kamis (7/12). Namun sekitar empat mahasiswa yang ada di rumah warga tersebut langsung menemuinya dan tidak membolehkannya menemui warga.

“Ada empat mahasiswa, kemudian yang lainnya juga pada datang. Saya langsung ditemui mahasiswa, tidak boleh menemui warga yang punya rumah. Sehingga kami tidak bisa menemui yang punya rumah,” ungkapnya.

Dengan kondisi itu, lanjut Triyono, sambil cooling down, pihaknya meminta PT Angkasa Pura I agar melaksanakan pekerjaan lain yang bisa dikerjakan. Menurutnya, selama mahasiswa masih ada di wilayah itu, upaya untuk melakukan pendekatan persuasif kepada warga sulit dilakukan.

“Untuk sementara ini kita cooling down dulu sambil koordinasi lebih matang lagi dengan Angkasa Pura dan pihak keamanan,” imbuhnya.

Sebelumnya, salah satu aktivis dari Aliansi Tolak Bandara, Heronimus Heron mengatakan, para aktivis yang mayoritas mahasiswa tetap bertahan bersama warga yang menolak tanahnya digusur untuk bandara. Mereka menginap secara live in di rumah-rumah warga yang menolak bandara. Menurutnya, setiap aktivitas dikoordinasikan bersama warga, apa yang menjadi keinginan warga diberikan dukungan.

“Kami tidak memprovokasi karena warga sejak awal sudah menolak (bandara). Kalau dibilang menghalangi aparat, karena ini tanah warga dan warga punya sertifikat hak milik dan mempertahankan maka teman-teman membantu,” imbuhnya.

(Panuju Triangga /SMNetwork /CN38 )