image

Tulisan Dewi Mangroversari yang berukuran besar ini menjadi pintu gerbang ke kawasan obyek wisata hutan mangrove di Dukuh Pandansari Desa Kaliwlingi. (suaramerdeka.com/ Bayu Setiawan)

06 Desember 2017 | 15:08 WIB | Liputan Khusus

Pesona Destinasi Wisata Baru di Kota Bawang

Dewi Mangrovesari, Mutiara Hijau di Pantai Utara Brebes

SEKITAR  tahun 2006 lalu, Dukuh Pandansari, di Desa Kaliwlingi, Kecamatan/ Kabupaten Brebes, hanyalah sebuah daerah yang terisolir dan tak dikenal. Ribuan hektare tambak sebagai sumber mata pencaharian warga di pedukuhan itu rusak parah akibat diterjang abrasi.

Setiap kali rob (air pasang laut-red) datang, pemukiman penduduk terendam. Masyarakat di sana, juga sangat kesulitan untuk mengakses ke ibukota kabupaten yang hanya berjarak sekitar 10 kilometer akibat kondisi jalan rusak parah.

Namun cerita kelam yang dirasakan masyarakat di sana, kini sudah sirna dan berupah menjadi manis. Kondisi Dukuh Pandansari yang terbelakang, saat ini berbalik 360 derajat. Daerah yang kini dikenal dengan wisata Dewi Mangrovesari itu berubah menjadi Mutiara Hijau di Pantau Utara Brebes, yang selalu diburu para pelancong untuk mengisi waktu liburan.

Daerah yang semula terisolir dan tertinggal itu telah disulap menjadi destinasi wisata di Kota Bawang. Munculnya obyek wisata yang menawarkan panorama alam pantai utara dengan kelebatan hutan mangrove dan kekayaan ekosistemnya, membuat kehidupan masyarakat di sana semakin terangkat. Akses transportasi pun  sudah sangat mudah.

Perubahan drastis tersebut berawal di tahun 2010 lalu. Keprihatinan penduduk setempat terhadap daerahnya yang terus tertinggal, jutrus memacu semangatnya untuk melakukan perubahan.

Potensi alam yang dimilik Pandansari mulai digarap masyarakat dengan dukungan pemeritah daerah setempat. Melalui kelompok masyarakat sadar wisata, lebatnya hutan mangrove disulap sebagai pemikat wisatawan berkunjung.

Ya, di Dewi Mangrovesari para pengunjung bisa menikmati panorama alam hutan mangrove sambil berwisata perahu. Membutuhkan waktu perjalanan sekitar 15 menit dengan menaiki perahu untuk menuju obyek wisata utama Dewi Mangrovesari.

Di sepanjang perjalanan, selain menikmati pesona hutan mangrove, pengunjung akan melihat langsung aktivitas warga yang berburu kerang di laut.

Tiba di dermaga Mangroversari, pengunjung dapat menikmati pesona hutang mangrove dengan berjalan kaki di trak yang telah disedikan. Termasuk, melihat kekayaan ekosistem di dalam kawasan hutan. Salah satunya, ekosistem ikan glodok yang hidup bebas di atas lumpur.

Bahkan, untuk menguji andrenalin disediakan juga sejumlah gardu pandang dengan ketinggian lebih dari lima meter. Pengunjung bisa menikmati pemandangan hutang mangrove dan pantai laut jawa dari ketinggian sambil bersua foto. Di beberapa titik, pengelola juga menyediakan lokasi bersua foto dengan latar belakang pantai dan hutan mangrove.

Tak hanya pesona alam, wisata kuliner khas Brebes juga bisa dinikmati di Dewi Mangrovesari, dengan menu hasil laut, seperti kepiting dan ikan bakar. Bagi anak-anak, fasilitas becak air juga terdapat di obyek wisata yang kini semakin dimintai pengunjung tersebut.

"Ya, sekarang Pandansari sudah berubah. Ini semua berkat semangat masyarakatnya dengan dukungan pemerintah. Pandansari yang dulu terisolir kini hanya menjadi kenangan kelam masa lalu. Ini karena Pandansari sudah menjadi obyek wisata," ungkap Mashadi (46), salah satu pelopor berdirinya wisata Dewi Mangrovesari.

Peraih penghargaan Kalpataru di tahun 2015 lalu itu menceritakan, mengubah pedukuhannya menjadi seperti saat ini memang membutuhkan perjuangan keras. Tanpa keinginan bersama masyarakat, tentu akan sulit dicapai.

Perjuangan itu, di awali sejak tahun 2010 lalu dan akhirnya dalam dua tahun terakhir Pandansari sudah benar-benar menjadi obyek wisata pilihan masyarakat saat berkunjung ke Brebes. "Wisata ini murni dikelola masyarakat sendiri, mulai dari perahu hingga pengelolaan atau manajemen obyek wisatannya," kata dia.

Meski saat ini sudah dibilang baik, lanjut dia, tetapi penataan terus dilakukan. Terutama, untuk memperlengkap fasilitas tempat wisata. Saat ini masyarakat juga sedang mengembangkan wisata memancing, dengan menyediakan ranggon-ranggon pemancingan di tengah laut. Ikan tangkapannya mulai dari jenis Baramundi hingga Kerapu.

Tak hanya itu, inovasi juga terus dilakukan, salah satunya dengan mengembangkan batik mangrove. Batik itu dibuat dengan pewarna alami bersumber dari tanaman mangrove.

"Ini kami lakukan agar Dewi Mangrovesari mampu bersaing dengan obyek wisata lain. Alhamdulilah, dari tahu ke tahun jumlah pengunjunganya terus meningkat. Saat libur, Sabtu dan Minggui jumlahnya bisa mencapai 1.500 orang lebih," ungkapnya.

Sementara Bupati Brebes Idza Priyanti mengaku, bangga terhadap perjuangan masyarakat Dukuh Pandansari yang mampu menyulap daerahnya menjadi tujuan wisata. Karena itu, pihaknya melalui Dinas Pariwisata terus mendorong dengan berbagai upaya promosi dan bantuan untuk memperlengkap fasilitas, termasuk pembangunan akses jalan yang memadai.

"Dewi Mangrovesari ini, sekarang sudah menjadi salah satu obyek wisata andalan di Brebes, dan ini juga secara tidak langsung akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Sebab, mereka juga ikut berdagang di obyek wisata," ungkapnya di sela-sela kegiatan presstour beberapa waktu lalu.

(Bayu Setiawan /SMNetwork /CN33 )