image

foto: istimewa

05 Desember 2017 | 02:56 WIB | Suara Banyumas

Pelajar dan Mahasiswa Penderita Terbanyak AIDS/HIV 

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com -Perkembangan penyakit Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) maupun Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Yogyakarta, terbanyak justru dari kalangan pelajar dan mahasiswa usia antara 20 sampai 30 tahun.

Kondisi ini cukup memprihatinkan, karena terjadi justru pada orang-orang usia produktif. Persoalan tumbuh kembangnya AIDS/HIV dikalangan anak-anak muda karena kebiasaan berganti paangan dalam berhubungan lein jenis dan jarum suntik.

''Anak-anak muda yang terkena penyakit tersebut, relatif masih muda karena usianya berkisar 20 sampai 30 tahun,'' kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS DIY, Riswanto usai bertemu dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kepatihan, Pemda DIY, Senin (4/12).

Selama tahun 2017 ini, lanjut Riswanto, warga yang terinveksi  HIV ada sebanyak 3.668 orang dan positif terjangkit AIDS ada sekitar 1.458. ''Yang paling dominan terinvensi virus HIV maupun positif AIDS anak muda usia 20-30 tahun,” kata dia menjelaskan.

Angka tersebut. kata dia, masih jauh dibandingkan dengan angka nasional yang terinveksi virus mencapai 255 ribu dan 55 ribu positif AIDS. Tetapi perkembangan jumlah ODHA (ODHA adalah singkatan dari Orang Dengan HIV/AIDS) di Yogyakarta 2017 meningkat dibanding 2016. ''Yang mencengangkan, peningkatan ODHA tersebut pada usia anak muda,'' katanya.

Penyakit menurunnya sistem kekebalan tubuh tersebut, bisa menimpa pada mayoritas anak muda sebagai dampak mereka melepas masa puber secara tidak terkendali. ''Mereka berhubungan laki dan perempuan secara berganti-ganti dan menggunakan jarum suntik (dalam pemakaian obat terlarang, red) secara bergantian. Hal itu sumber utama anak muda mendominasi terkena HIV/AIDS,'' katanya.

Dalam rangka menekan pertumbuhan anak muda menjadi ODHA, maka Komisi Penanggulangan AIDS DIY akan bekerjasama dengan seluruh sekolah di Kota Pendidikan untuk mengadakan sosialisasi bahaya pergaulan tidak sehat dan efek pergaulan tersebut yang menjadi pemicu HIV/AID pada 2018.

Kejasama tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 22.Tahun 2016 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar Dan Menengah, guru wajib melakukan sosialisasi pendidikan seks pada siswa-siswa terutama guru pendidikan kesehatan dan jasmani. 

(Sugiarto /SMNetwork /CN34 )