image

Foto: suaramerdeka.com/M Abdul Rohman

01 Desember 2017 | 22:58 WIB | Liputan Khusus

Kisah Pilu Kehidupan Turahno, 30 Tahun Berjuang Lawan Penyakit

HIDUPsebatang kara di rumah peninggalan almarhum ayahnya dengan kondisi cacat fisik, tak membuat Turahno (38), warga Dusun Simbang RT 02 RW 01 Desa Simbang Kecamatan Kalikajar, Wonosobo patah semangat. Meskipun dihimpit persoalan ekonomi, ia tetap tegar menjalani kehidupannya dengan keterbatas fisik pada jari tangan dan kedua kaki. Ia susah berjalan lantaran pergelangan kaki kanannya membengkak sebesar kepalan tangan orang dewasa.

Untuk aktivitas sehari-hari, pria kelahiran Wonosobo, 28 Agustus 1979 itu harus menggunakan sepasang kruk sebagai alat bantu jalan guna menopang tubuhnya. Sementara jari-jari tangannya kaku dan bengkok disertai rasa gatal yang luar biasa. Ia menuturkan, kondisi itu sudah terjadi sejak usianya menginjak delapan tahun. Kala itu, dirinya jatuh dari pohon saat hendak mencari kayu bakar di hutan. Ia jatuh dan terperosok menimpa rerumputan berduri tajam. 

Sesaat setelah terjatuh, tiba-tiba pergelangan kaki kanannya mengalami memar serta bengkak dengan beberapa luka sobekan dari duri-duri rumput yang menancap dikulitnya. Kedua tangannya juga mengalami luka-luka, akibat tertancap duri rumput tersebut. Awalnya ia mengira itu hanya terkilir biasa. Karena keterbatasan biaya, saat itu ia hanya dibawa ke tukang urut. Pasalnya, pada saat itu fasilitas kesehatan seperti Puskesmas maupun klinik kesehatan di sesa tersebut masih sangat minim.

Untuk ke rumah sakit, ia harus menempuh jarak puluhan kilometer dari rumahnya, sehingga harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Setelah insiden jatuh itu, kondisi Turahno tidak menunjukkan tanda-tanda membaik. Justru kaki kanan dan jari-jari tangannya semakin terasa kaku dan perlahan mulai membengkok. Sudah beberapa kali ia dibawa ke rumah sakit, namun tidak ada perkembangan yang berarti. 

Dokter yang menanganinya mendiagnosa, jari tangan dan juga pergelangan kaki Turahno mengalami infeksi karena pada saat terjatuh tidak dilakukan penanganan medis yang benar, sehingga mengakibatkan cacat permanen. 

Turahno sempat menggunakan kursi roda beberapa bulan untuk membantunya beraktivitas, namun kondisi jalan di sekitar rumahnya yang menanjak dan menurun disertai batu-batu terjal tanpa aspal, sangat tidak memungkinkan dipakai dalam waktu lama. 

Hal ini membuat Pemerintah Desa Simbang berinisiatif memberikan bantuan berupa tongkat kruk yang sampai saat ini masih dipakai Turahno. Selain menderita cacat fisik, ia juga mengalami gatal-gatal hampir di sekujur tubuhnya. Tidak diketahui pasti apa penyebabnya, namun gatal-gatal itu muncul setelah terjadi pembengkakan di kaki kanannya tersebut. 

Masa kecil Turahno, sebetulnya sama seperti anak seusianya secara umum. Ia terlahir dengan kondisi fisik normal dan kehidupan sederhana namun bahagia.

Namun, kondisi itu seketika berubah ketika Tuhan memberikan cobaan berupa cacat fisik yang membuatnya tidak bisa berjalan dengan normal lagi. Ditambah lagi, sang ayah yang bernama Sibun, meninggal dunia pada 2012 lalu. Sedangkan ibunya yang bernama Yanuri, telah meninggal sejak ia masih kecil. Ia sempat merasa terpuruk selama beberapa tahun. Karena, harapannya untuk bisa berkeluarga seperti orang-orang pada umumnya, seakan telah pupus.

Hidupnya terasa hampa, karena sampai saat ini belum menemukan seorang wanita yang bersedia mendampingi masa-masa sulitnya. "Pernah kepikiran untuk berkeluarga, mempunyai istri dan anak, tapi wanita mana yang mau sama pria dengan kondisi fisik yang seperti ini?," tutur Turahno sambil matanya berbinar-binar. Selain kondisi fisik, kKondisi perekonomiannya juga serba terbatas, membuat warga sekitar tergugah hatinya untuk sedikit meringankan bebannya, melalui bantuan sembako.

Di rumah peninggalan mendiang ayahnya yang berukuran 10x5 meter, Turahno menghabiskan waktunya setiap hari seorang diri tanpa sanak saudara. Kondisi rumahnya sangat memprihatinkan, selain tanpa adanya perabotan rumah tangga seperti meja, kursi dan almari, di dalamnya hanya ada dua ruangan. Terlihat di beberapa sisi tembok telah mengelupas dengan material tembok rontok. Di ruangan pertama ada dua buah televisi yang beralaskan tikar lusuh. 

Sedangkan di ruangan kedua, ada ranjang tidur beralaskan tanah yang menjadi satu dengan dapur tempat Turahno biasa memasak. Kemudian, untuk kamar mandinya berada di depan rumah, itupun hanya bilik tanpa atap yang ditutup kain dan seng di bagian samping. Untuk kebutuhan mandi, Turahno mengandalkan air hujan yang ditampung ke dalam ember kecil.

 Saat ini, pria yang mempunyai nama kecil Turah Sardi ini menggantungkan hidupnya dari hasil usaha rental Playstasion (PS) di rumahnya. 

Usaha rental PS itu, sebenarnya bentuk bantuan dari warga sekitar yang simpatik dengan kondisinya. 
Dia diberikan modal untuk membuka rental PS guna membantu mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Namun, karena keterbatasan fisiknya itu, rental PS menjadi satu-satunya sumber penghasilan Turahno sejak dua tahun terakhir. 

Tarif yang ia patok untuk bermain PS adalah Rp 3.000 per jam dan jika bermain dua jam hanya membayar Rp 5.000 saja. 

Dalam sehari biasanya hanya ada dua sampai empat anak yang bermain PS di rumahnya. Itu artinya uang yang ia terima hanya sekitar Rp 10.000 per hari. Dengan uang itu biasanya ia belikan beberapa biji tahu kuning dan kecap sachetan untuk lauk makan. Tentu itu masih jauh dari kata layak. Terkadang ia harus menahan lapar seharian lantaran tidak ada satupun anak yang bermain PS. Ketika sudah seperti itu, Turahno hanya bisa pasrah dengan keadaan sembari menunggu belas kasih tetangganya.


Ketua RT 02 RW 01, Ponijan berharap kondisi itu segera mendapat perhatian khusus dari pemerintah daerah. Selain untuk keperluan hidup, kondisi rumahnya masih kurang layak, karena untuk tempat tidur hanya ditutup kain sehingga sangat dingin kalau malam. Kamar mandi pun bukan bangunan permanen, melainkan hanya bilik yang dikelilingi kain dan seng sebagai penutup sampingnya, sehingga kapanpun bisa terhempas terbawa angin.

"Saya sangat prihatin dengan kondisi Turahno saat ini. Saya juga berharap ada perhatian khusus dari pemerintah daerah agar diberikan bantuan berupa sembako, peralatan rumah tangga, dan juga dibangunkan kamar mandi yang lebih layak. Karena kasihan dia hanya mengandalkan air hujan untuk mandi, kadang juga menyambung dari sumber air. Mungkin itu yang menyebabkannya sering gatal-gatal juga. Untuk kebutuhan makan dan sandang juga jauh dari layak," tuturnya.

(M Abdul Rohman /SMNetwork /CN38 )