image

Sejumlah pekerja PGN memeriksa jaringan pipa gas di Tambaklorok, beberapa waktu lalu. (suaramerdeka.com/Yulianto).

30 November 2017 | 20:15 WIB | Liputan Khusus

Pemanfaatan Energi Alternatif Gas Bumi Lebih Ramah Kantong

Suaramerdeka.com - SALAH SATU  program yang dicanangkan pemerintah adalah penggunaan energi alternatif. Tujuannya agar masyarakat tidak terlalu bergantung pada energi tertentu hingga menolak energi lain yang lebih potensial.

Pemanfaatan energi LPG (Liquefied Petroleum Gas) saat ini tengah menjadi idaman masyarakat Indonesia. Sektor rumah tangga seakan menganggap LPG adalah satu-satunya bahan bakar. Padahal ketersediaan LPG di alam Indonesia kian menipis.

Saat ini ketika masyarakat begitu bergantung pada LPG, ketersediaannya makin dikeluhkan banyak pihak. Pasokan LPG ke agen-agen jadi berkurang dan di warung-warung terjadi kekosongan. Sebagai dampak kelangkaan, harganya pun menjadi mahal.

Melihat situasi seperti ini masyarakat mestinya mulai mempertimbangkan energi lain. Bila LPG tidak lagi dapat mencukupi kebutuhan energi maka Gas Bumi bisa menjadi solusi.

Berdasarkan data statistik energi dunia yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017 Indonesia menempati ranking ke empat negara penghasil Gas Bumi terbesar di Asia Pasific. Ini menunjukan masyarakat tidak perlu khawatir sebab ketersediaan sumber energi Gas Bumi dipastikan akan bertahan lama.

Energi Gas Bumi yang dikelola oleh Perusahaan Gas Negara (PGN) ini telah berdedikasi menyuplai energi kepada masyarakat. Dari situs resminya, PGN saat ini telah melayani 170.094 pelanggan rumah tangga, 1.928 pelanggan komersial, 10 jaringan SPBG penyedia BBG dan 7.270 km jaringan pipa gas yang menyentuh wilayah Medan, Pekanbaru, Batam, Palembang, Lampung, JABODETABEK, Karawang, Semarang, Surabaya, Sidoarjo, Purbalingga, Mojokerto, Pasuruan, Gresik hingga ke Tarakan dan Sorong.

Daerah-daerah yang belum tersentuh pipa gas bumi PGN direncanakan lewat penambahan jangkauan penyaluran gas bumi periode 2016-2019.

Gas Bumi Lebih Ramah di Kantong

Selain sumbernya yang melimpah, harganya pun terbilang ramah di kantong. Contoh sederhananya yaitu produk jaringan pipa gas. Harga untuk tipe rumah tangga I adalah Rp 3.333 per meter kubik. Sementara rumah tangga II adalah Rp 4000 per meter kubik.

Mari dihitung dengan harga yang harus dibayarkan pengguna LPG. Bila LPG 12 kilo setara dengan pemakaian 15 meter kubik gas bumi, maka pengguna LPG 3 kilo setara dengan 3.75 meter kubik gas bumi. Pelanggan cukup mengeluarkan Rp 12.500. Angka yang lebih kecil daripada membayar LPG 3 kilo sebesar Rp 20.000,-.

Untuk bright gas sebesar 5.5 kilo, pengguna jaringan pipa gas bumi hanya membayar Rp 22.600.- lebih murah dibanding LPG sebesar Rp 50.000,-.

Angka paling signifikan yaitu pada perbandingan LPG 12 kilo. Untuk pelanggan jaringan pipa gas hanya dikenakan Rp 50.000,- jauh lebih kecil dibandingkan harga LPG sekitar Rp 150.000.

Sales Area Head PGN Semarang, Heri Frastiono mengatakan belum adanya pasokan gas dari wilayah Jawa Tengah sehingga gas diambilkan dari Jawa Timur dan Jawa Barat menggunakan CNG (Compress Natural Gas) truck dan diangkut ke Jawa Tengah. Di wilayah Semarang jaringan pipa dibuat dengan sistem cluster. Yaitu dengan membangun jaringan pipa gas di wilayah tersebut seperti yang ada di Kawasan Industri Wijaya Kusuma dan Tambak Aji. Untuk wilayah perumahan, Perumahan Wahyu Utomo Ngaliyan Semarang adalah salah satu contoh perumahan yang sudah memasang jaringan pipa gas bumi dari PGN.

Prioritaskan Keamanan dan Efisiensi

Pipa yang digunakan untuk mengalirkan gas bumi sangatlah aman sebab diinstal oleh para ahlinya. Jenisnya yaitu pipa polietilena dengan ketahanan hingga 7 bar. Padahal untuk operasional sehari-hari maksimal hanya 4 bar saja. Sehingga pengguna jaringan pipa gas bumi di perumahan bisa tidur nyenyak karena rasa aman dan nyaman dijamin oleh PGN. "Di depan rumah pelanggan ada meteran, di situ bisa diukur gas yang mengalir ke rumah ini berapa. Kalau LPG kan tidak gitu. kita tidak tahu apakah full atau tidak," ungkap Heri, Rabu (15/11).

Pelanggan pun tidak perlu takut kehabisan bahan bakar ketika memasak. Sebab selama pelanggan taat membayar tagihan maka aliran gas pun lancar. Sehingga lebih efisien.

Gas yang mengalir di jaringan telah diformulasikan dengan cairan odoran. Apabila gas bocor akan menimbulkan bau yang sangat menyengat dan dapat segera dilakukan tindakan.

Salah satu pelanggan,  Rusmiyati (47) mengatakan, menggunakan gas bumi dari PGN lebih murah dibandingkan dengan memakai LPG.  Pasalnya, per bulan dia hanya mengeluarkan Rp 25.000 jika menggunakan gas bumi, lebih hemat Rp 15.000 dibandingkan 2 tabung LPG 3 kilo yang harganya sekitar Rp 40.000 untuk kebutuhan memasak di rumah.

"Selain itu, saya tidak perlu repot-repot lagi ke warung untuk mencari tabung gas, belum lagi kalau terjadi kelangkaan pasokan di pasaran," ujarnya, baru-baru ini.  (*)

(Yulianto /SMNetwork /CN38 )