image

Para pelajar tingkat SMP-SMA dan orang tua penerima manfaat program keluarga harapan mengikuti Edukasi Bahaya HIV/AIDS dan Narkoba di Sasana Adipura Wonosobo, kemarin. (suaramerdeka.com/ M Abdul Rohman)

29 November 2017 | 14:37 WIB | Suara Banyumas

Kasus HIV/AIDS di Wonosobo Masuk Titik Rawan

  • Tahun 2016, 356 Terdeteksi, 90 Meninggal

WONOSOBO, suaramerdeka.com -Jumlah kasus HIV/AIDS di Wonosobo dinilai sudah mencapai titik rawan. Tahun 2016 lalu telah ditemukan 356 Orang Dengan HIV/ AIDS (ODHA), dan 90 penderita diantaranya dinyatakan telah meninggal dunia.

Hal itu patut menjadi perhartian bersama, apalagi penemuan HIV/ AIDS di Wonosobo tahun 2016 tidak hanya berasal dari populasi kunci, melainkan sudah merambah dan masuk ke kelompok resiko rendah.

Pandangan itu disampaikan Bupati Wonosobo, Eko Purnomo dalam kegiatan Edukasi Bahaya HIV/AIDS dan Narkoba yang diselenggarakan Komunitas Keluarga Sosial Wonosobo di Sasana Adipura Wonosobo, kemarin.

Edukasi dihadiri dua pemateri dari Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia Brigjen Pol Dr Victor Pudjiaji dan Kementerian Sosial Republik Indonesia Dr Latri Mumpuni. Kegiatan diikuti ratusan pelajar setingkat SMP-SMA dan orang tua penerima manfaat program keluarga harapan.

Menurut Bupati Eko, penemuan HIV/ AIDS di Wonosobo tahun 2016 bukan hanya pada kelompok waria, wanita pekerja seks komersial, pengguna narkoba suntik, laki-laki pelanggan seks komersial dan gay.

"Penemuan kasus HIV/ AIDS sudah merambah serta masuk kepada kelompok resiko rendah. Ibu rumah tangga menempati proporsi terbesar ketiga, yakni sebanyak 59 kasus. TKI purna dan pasangannya menempati proporsi terbesar kelima, yakn sebanyak 26 kasus," ujarnya.

Sementara itu, penularan penyakit HIV/AIDS juga terjadi dari ibu ke bayi, dengan jumlah kasus mencapai 15 kasus.

Terbukanya kran teknologi informasi dan komunikasi yang tidak disikapi secara bijak, berdampak negatif terhadap kondisi psikologis generasi muda yang belum matang. Mereka sangat rentan dan berhulu pada degradasi moral yang menimpa anak-anak, serta generasi muda yang dewasa ini sudah sangat mengkhawatirkan.

Dr Latri Mumpuni dari Kementerian Sosial Republik Indonesia menyebutkan, sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan HIV. Obat yang ada sekarang hanya ARV (anti retroviral) yang digunakan sebagai terapi untuk menghambat perkembangbiakan virus dalam tubuh.

"Adanya terapi ARV memberi kesempatan ODHA hidup lebih produktif. Mereka masih memiliki hak hidup bersosial, jadi tidak boleh mendapat pandangan buruk dan diskriminasi masyarakat," ujarnya.

(M Abdul Rohman /SMNetwork /CN33 )