image

Foto: Istimewa

11 September 2017 | 18:27 WIB | Nasional

Ketika Jokowi Terima Komplain Atas Pernikahan Raisa dan Laudya

BANDUNG, suaramerdeka.com -Presiden Jokowi mengingatkan karakter terbuka sosial media yang menjadikan segala urusan bisa ditumpahkan langsung hingga pemerintah pusat dan dirinya tanpa lagi mempertimbangkan urgensi akan skala prioritas. Dia mencontohkan pernikahan dua perempuan pesohor yang membuatnya mendapat komplain dari masyarakat.

Gara-garanya peristiwa tersebut dianggap sebagai hilangnya aset negara karena diambil asing. Kedua pesohor itu, penyanyi Raisa Andriana yang dipersunting Hamish Daud yang berpaspor Australia dan pesinetron Laudya Chintya Bella yang melepas lajang usai dinikahi pengusaha Malaysia, Engku Emran.

"Sekitar 1-2 hari lalu saya dikomplain soal Raisa, Pak Presiden ini satu lagi asset Indonesia lepas ke tangan asing, karena ternyata suaminya asal Australia. Ini belum saya jawab muncul lagi asset lain yang lari ke tangan asing yakni Cynthia Bella ke Malaysia," katanya saat orasi ilmiah pada Dies Natalis Ke-60 Unpad di Bandung, Senin (11/9).

Pernyataan tersebut terang saja membuat hadirin tergelak. Mantan Wali Kota Surakarta itu menambahkan peristiwa semacam itu bisa jadi tak terbayangkan sebelumnya. "Dulu, mungkin tak akan pernah tapi sekarang bisa disampaikan langsung ke Presiden atau pun pemerintah. Inilah keterbukaan yang kita hadapi, dan semuanya harus siap, jadi bukan urusan freeport atau newmont saja," tandasnya.

Tak hanya itu, Jokowi juga menggambarkan sisi lain sosmed yakni betapa kejamnya platform tersebut terutama terkait keberadaan hoax dan kebohongan informasi yang terkesan mudah disebarkan. Kondisi tersebut, jelasnya, banyak memakan korban termasuk tatanan di masyarakat. Situasinya menjadi semakin parah. Pasalnya, tak semua arif dan bijak dalam mencerna informasi yang banyak berseliweran di lini masa sosmed.

"Masyarakat mudah emosional  karena emosinya mudah teraduk-aduk, ada apa sedikit langsung ditanggapi, padahal belum tentu betul, tapi langsung saja emosional," jelasnya.

Tak hanya itu, kehebatan sosmed menerpa pula situasi politik di Tanah Air. Berdasarkan amatan mantan Wali Kota Surakarta itu, dinamika yang dimainkan di Sosmed akan memberikan pengaruh pada perilaku individu maupun kelembagaan.

"Perilaku pemilih bisa berubah, apalagi dengan konten di media konvensional yang kalah cepat dibanding dunia maya, demikian pula suasana politik juga cepat berubah karena teraduk-aduk informasi seperti itu, termasuk perilaku parpol, pejabat politik dan publik yang cepat berubah," katanya.

(Setiady Dwi /SMNetwork /CN38 )