image

Foto: Istimewa

14 November 2017 | 06:59 WIB | Suara Muria

Guru Tata Busana Harus Kreatif 

KUDUS, suaramerdeka.com - Perkembangan dunia fashion yang sangat cepat menuntut guru tata busana harus semakin kreatif. Untuk itu, guru tidak harus lagi terpaku pada kurikulum, tetapi harus update tren serta mengajarkan siswanya untuk mengeksplorasi kemampuannya dengan terus mengikuti perkembangan fashion masa kini.

''Kali ini kami bekerja sama dengan praktisi fashion dalam workshop penyelarasan SMK kompetensi keahlian tata busana. Tujuannya agar guru tata busana bisa semakin kreatif, sehingga output dari jurusan ini bisa jadi desainer dan tidak hanya sekedar tukang jahit,'' kata Yuliati Nurhidayati Kepala Seksi Kerjasama Industri Sub Direktorat Pengawasan Kejuruan dan Kerjasama Industri, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada pembukaan pada workshop Penyelarasan SMK kompetensi keahlian tata busana di hotel griptha Kudus, Senin (13/11).

Menurutnya, pemerintah terus berupaya memacu kualitas SMK. Di jurusan tata busana ini, Kemendikbud menggandeng industri dan praktisi tata busana yaitu Indonesian Fashion Chamber (IFC) untuk turut mendukung dan mendampingi pendidik serta siswa agar bisa menyelaraskan diri dengan industri di dalam maupun di luar negeri.

''Di Indonesia ada sekitar 13.000 SMK, dan yang memiliki jurusan tata busana ada 1.000-an lebih. Ini terus kami pacu agar tenaga pendidiknya bisa mengikuti perkembangan fashion,'' katanya.

Sementara itu, narasumber dari IFC Ali Charisma mengatakan, perkembangan fashin sangat cepat. Tidak lebih dari enam bulan sekali tren fashion selalu berganti. Hal ini jauh lebih cepat dibandingkan perubahan kurikulum. Oleh karena itu, guru tata busana harus bergerak lebih cepat agar bisa mengikuti perkebangan tren, sehingga bisa memberikan pelajaran yang tepat bagi siswanya.

''Kalau ingin maju, guru tata busana harus bergerak cepat. Selalu update informasi dan perkembangan tren terkini,'' katanya. 

(Septina Nafiyanti /SMNetwork /CN39 )