image

Peserta pelatihan pengelola homestay mengunjungi Gapura Padureksan, salah satu destinasi di desa wisata Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kudus. Gapura yang diperkirakan dibangun pada abad 15 itu merupakan cagar budaya. (Sm/dok)

23 Oktober 2017 | 02:21 WIB | Suara Muria

Kemenpar Gelar Pelatihan Homestay di Kudus

KUDUS, suaramerdeka.com- Selama dua hari pekan kemarin, sejumlah pengelola homestay (rumah inap) di beberapa desa wisata di Kudus mendapat pelatihan dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Pelatihan diikuti 30 orang pelaku desa wisata, dimaksudkan agar homestay mampu menghadirkan daya dukung atau bagian dari destinasi (daya tarik) wisata.

Fenomena desa wisata yang makin menguat dalam sepuluh tahun belakangan ini, mendorong Kemenpar semakin serius memberi perhatian. Di Beberapa desa wisata, warga masyarakat beroleh manfaat ekonomi yang signifikan. Meski, pada sisi lain, tak sedikit desa wisata yang hanya papan nama. Tinggal formalitas, sama sekali tiada kegiatan pariwisata.

Atas dasar potensi dan adanya hambatan tersebut, Kemenpar menyentuh secara langsung desa wisata agar benar-benar memiliki daya tarik wisata. ‘’Saat ini Kemenpar menerapkan tiga program utama, yakni homestay, digital, dan penerbangan,’’ tutur pimpinan tim Kemenpar dalam pelatihan di Kudus, Ujang Sobari. 
  
Di Jawa Tengah, menurut catatan Suara Merdeka, desa wisata yang paling sukses meraup manfaat keekonomian adalah Ponggok, Kabupaten Klaten. Umbul (sendang) Ponggok yang semula hanya dimanfaatkan untuk air minum dan mandi serta mencuci warga desa, setelah dikreasi menjadi arena snorkeling serta diving (menyelam), mampu menghasilkan pendapatan kisaran Rp 5 miliar per tahun. Begitu pula desa wisata Dieng Kulon, Wonosobo.
    
Ahmadi, Kepala Seksi Destinasi Wisata Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Jawa Tengah, mencatat, Dieng Kulon berhasil mendongkrak tarif kamar homestay ketika dilangsungkan event Dieng Culture Festival yang antara lain dipentaskan pula Jazz di Atas Awan pada beberapa bulan lalu. Harga kamar homestay menjadi setara dengan hotel berbintang tiga.

‘’Tergantung kondisi kamar yang ada di masing-masing homestay, mereka menjual kamarnya dari Rp 200 ribu – Rp 500 ribu per hari,’’ ujarnya. Para wisatawan tidak mengalami kesulitan untuk mendapat informasi mengenai homestay yang diinginkan, karena pemasarannya dikoordinasi secara baik oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat.

Peneliti di Kemenpar, Dr Heri Hernawan MSi, yang menjadi nara sumber dalam pelatihan membenarkan penentuan tarif homestay tidak ada batasannya. ‘’Tergantung asas kepatutan saja. Ini justru memberi keleluasaan bagi pemilik homestay, desa wisata, serta wisatawan itu sendiri,’’ tandasnya.

Heri mengingatkan, kondisi atau tingkat kemenarikan destinasi termasuk homestay di desa wisata bersangkutan, yang akan menentukan bagaimana harga kamar homestay yang patut. Karena itu, Kemenpar memandang perlu mmeberi pelatihan bagaimana mengelola homestay secara baik dan benar.

Nara sumber lainnya, Rina Fitriana SPd MM mengingatkan, manajemen pengelolaan serta pemasaran homestay juga harus menjadi perhatian yang serius bagi pengelola rumah inap serta pengelola desa wisata. 

‘’Perhatikan betul tingkat kepuasan tamu. Jangan sampai mereka kecewa. Tamu yang kembali datang dalam kesempatan berikutnya ke homestay tersebut, menunjukkan mereka mendapati kesan yang positif serta kepuasan yang tinggi saat menginap sebelumnya,’’ jelas pengajar di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti Jakarta.
     
Tak hanya mendapat pelatihan teori di kelas, namun peserta juga melakukan pengamatan langsung atas keberadaan homestay. Didampingi tim Kemenpar, nara sumber, dan Kepala UPT Objek Wisata Disbudpar Kudus Mutrikah SH, mereka mengunjungi homestay di desa wisata Loram Kulon, Kecamatan Jati.

Sementara, seusai pelatihan berakhir, Mutrikah memandu tim Kemenpar dan nara sumber mengunjungi Museum Jenang. Destnasi yang baru dibuka sebulan sebelum Lebaran Idul Fitri itu merupakan persembahan perusahaan jenang PT Mubarok Food Cipta Delicia. Museum menampilkan diorama legenda penganan jenang hingga menjadi makanan khas Kudus.

Di Loram Kulon, setelah memperoleh penjelasan mengenai destinasi utama berupa Gapura Padureksan yang diperkirakan dibangun pada abad 15 oleh Sultan Hadlirin serta destinasi lain berupa budaya Ampyang Maulid dan sega kepel(nasi bungkus daun), peserta mengunjungi sejumlah homestay. 

‘’Homestay yang paling bagus dengan salah satu kamarnya ber-AC, tarifnya Rp 750 ribu per hari, tanpa makan. Ada tiga kamar, tetapi kami bisa menata homestay itu untuk tinggal 15 orang,’’ kata Ketua Pokdarwis Loram Kulon, Anis Amiruddin.

(Prayitno /SMNetwork /CN34 )

NEWS TERKINI