image

foto: suaramerdeka.com/dok

13 Februari 2018 | 20:51 WIB | Semarang Metro

Hendi Jamin Semarang Tetap Gayeng

SEMARANG, suaramerdeka.com- Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, saat jelang Imlek tahun ini masih terus ditanya awak media terkait pengamanan. "Tidak seperti tahun lalu, menjelang Imlek di tahun ini, saya terus ditanya oleh teman-teman media tentang pengamanan yang akan dilakukan, sebuah pertanyaan yang seingat saya tidak pernah ditanyakan di tahun-tahun lalu," kata Hendrar Prihadi, saat membuka Pasar Imlek Sewamis 2018 di kawasan Pecinan Kota Semarang. 

"Untuk itu saya tegaskan bahwa tidak ada yang berubah, dan tidak ada hal harus dikhawatirkan. Yang terjadi di daerah lain tidak akan terjadi di Kota Semarang. Saya yakin kalau keberagaman merupakan kekuatan kita, dan terbukti hari ini perayaannya tetep gayeng seperti tahun-tahun sebelumnya," tegas Wali Kota Semarang yang juga akrab disapa Hendi itu.

Selanjutnya ketika ditanya terkait kasus yang terjadi akhir-akhir ini di beberapa daerah, seperti kejadian penyerangan Gereja di Yogyakarta, Hendi mengungkapkan mengutuk aksi intoleran tersebut. "intinya kalau mau hidup di Indonesia ya harus saling menghargai, kalau tidak bisa menghargai maka pindah saja ke negara lain," tutur Hendi, dengan suara sedikit meninggi. 

Senada dengan Hendi, Ketua Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis), Haryanto Halim mengungkapkan, pentingya keberagaman sebagai pemersatu masyarakat. "Keberagaman bukan slogan, bukan hanya ucapan. Perbedaan agama, suku, dan ras tidak seharusnya menjadi belenggu. Aku adalah engkau, engkau adalah aku. Tidak ada engkau, tidak ada aku," tutur Haryanto, dalam sambutannya pada kegiatan pembukaan Pasar Imlek Semawis 2018.

Di tempat terpisah, Sekretaris Lembaga Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU Kota Semarang, Rikza Chamami menegaskan, jika keberagaman harus dijaga sebagai kekayaan kota Semarang. "Dan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam moderat selalu menjaga dengan penuh khidmat tentang realitas keragaman. Sebab NU lahir sebagai sebuah jawaban antara agama sebagai kebutuhan ideologi dan tradisi yang berkembang sesuai realitas masyarakat," tutur Rikza.

Selain itu, Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Semarang, Saddam Saifurriyal mengungkapkan, jika saat ini banyak yang tidak menyadari bahwa keberagaman ini adalah anugrah yang sangat luar biasa. "Rukun merupakan syarat mutlak mempererat bangsa karena kita satu saudara dalam bingkai NKRI, jangan sampai ada tindakan intoleran yang mencederai kerukunan antar pemeluk agama", tegas Saddam.

Hal yang sama pun diungkapkan oleh Ananta, Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Jawa Tengah. Dirinya mengaku bersyukur di Kota Semarang keberagaman terjaga dengan baik. "Kota semarang ini ibarat taman yang berisi berbagai macam bunga yang indah, yang terdiri dari berbagai agama dan berbagai budaya," pungkas Ananta

(Setiawan Hendra Kelana /SMNetwork /CN40 )