image

CALON LOKASI : Patung penjaga tergeletak di calon lokasi pembangunan Masjid Taman Sriwedari Surakarta (MTSS), kemarin. (suaramerdeka.com/Yusuf Gunawan)

10 Februari 2018 | 04:00 WIB | Solo Metro

Masjid Sriwedari Dibangun Tanpa Lelang

  • Pemuda Muhammadiyah Solo Mendukung

SOLO, suaramerdeka.com- Panitia Pembangunan Masjid Taman Sriwedari Surakarta (MTSS) berencana mendirikan tempat ibadah tanpa didahului lelang agar proyek tersebut tidak terkendala hal-hal teknis. Keputusan meniadakan tender untuk proyek miliaran rupiah itu, salah satunya, karena sebagian besar dana pembangunan bukan uang negara.

‘’Dari hasil rapat, masjid diusulkan dibangun melalui penunjukkan. Rekanan yang akan ditunjuk sebagai pelaksana proyek adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), kata ketua panitia pembangunan, Achmad Purnomo, usai rapat panitia inti proyek tersebut di Balai Kota, Jumat (9/2). Selain itu, lanjut dia, dengan penunjukkan kontraktor leluasa memilih jenis dan kualitas material.

Meski demikian, tidak sepenuhnya pembangunan MTSS yang diprediksi menelan anggaran Rp 161 miliar diselenggarakan tanpa lelang. ‘’Pembangunan yang dibiayai APBD sekitar Rp 1 miliar, tetap dilelangkan. Panitia sepakat, anggaran APBD itu akan digunakan untuk membangun satu dari empat menara kecil pendamping menara utama,’’ terang Purnomo.

Dalam rapat kemarin, menurut Purnomo yang juga menjabat Wakil Wali Kota (Wawali) Surakarta ini, panitia menyepakati tiga tahap pembangunan. Ketiga tahap itu adalah pembangunan struktur bangunan, pendirian menara, serta penataan lanskap.

‘’Tim teknis nantinya akan membuat target pencapaian tahapan-tahapan itu. Intinya waktu pembangunan tidak lebih dari dua tahun. Bahkan jika memungkinkan Agustus 2019 sudah selesai,’’ papar dia.

Awal pekan ini, peletakkan batu pertama pembangunan MTSS telah digelar panitia. Masjid itu dibangun di lahan eks Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari seluas 17.200 meter persegi, dengan bangunan utama seluas 4.330 meter persegi.  Tempat ibadah di tepi ruas jalan utama Kota Solo tersebut didesain mampu menampung 7.680 jamaah. Masjid dilengkapi lima menara, dengan menara utama setinggi 114 meter.

Muhammadiah Mendukung

Terpisah, Pemuda Muhammadiyah mendukung penuh pembangunan MTSS  yang bakal menjadi ikon kebanggaan dan rujukan bagi syiar Islam. ‘’Kami bersama anggota sangat mendukung langkah Pemkot itu. Selain sebagai nilai historis masjid itu dapat menjadi ikon Kota Bengawan. Tentunya langkah Pemkot kami dukung dan kami kawal, sehingga pembangunan masjid itu berjalan dengan baik,’’ kata Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Solo, Suyanto, Jumat (9/2).

‘’Tujuannya pasti dapat meningkatkan ketakwaan, terwujudnya masyarakat yang agamis. Dan tentunya pembangunan masjid dapat digunakan sebagai tempat aktivitas sosial keagamaan dan berdiskusi tentang berbagai permasalahan umat dan bangsa,’’ ungkap Suyanto.

Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) juga mendukung pembangunan tersebut, namun tidak pada lahan bekas taman hiburan rakyat Sriwedari itu. Tanah tersebut secara hukum telah dimiliki oleh ahli waris. Mereka menyaranakan pembangunan dapat dipindah di tanah bekas Polwil Surakarta.

‘’Harapan kami Pemkot melakukan komunikasi lagi dengan ahli waris, karena secara hukum Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan Pemkot ke Mahkamah Agung (MA) ditolak. Hal tersebut jelas, lahan bekas THR itu adalah milik ahli waris (RMT Wiryodiningrat),’’ kata Divisi Advokasi DSKS Endro Sudarsono.

(M Ilham Baktora /SMNetwork /CN39 )