image

Asisten Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM, Siti Dharma Wasita meninjau hasil batik kelompok perajin di Wonosobo, Kamis (8/2) lalu. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)

10 Februari 2018 | 03:15 WIB | Suara Kedu

Sebanyak 2.500 KUMKM Ditarget Tersertifikasi Gratis

  • Program Kementerian Koperasi dan UKM

WONOSOBO, suaramerdeka.com- Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Republik Indonesia menargetkan sebanyak 2.500 produk milik pelaku koperasi, usaha mikro kecil dan menengah (KUMKM) mendapatkan program sertifikasi gratis. Asisten Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM, Siti Dharma Wasita menyebutkan, tahun ini target produk yang disertifikasi jauh lebih meningkat dari tahun 2017 yang hanya mencapai 2.025 produk.

"Pada tahun 2017, target yang distandarisasi dan disertifikasi sebanyak 2.025 KUMKM dan telah terealisasi sebanyak 2.083 KUMKM. Khusus di Kabupaten Wonosobo, telah terfasilitasi pendaftaran hak merek 20 KUMKM dan hak cipta 84 KUMKM. Dari hasil monitoring terhadap KUMKM yang telah difasilitasi, terjadi peningkatan volume usaha rata-rata sebesar 8,7 persen dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 1,6 persen," ungkapnya kepada Suara Merdeka di Wonosobo, Kamis (8/2).

Menurut dia, program peningkatan kapasitas usaha tersebut masih berlanjut di tahun 2018. Target yang disediakan, jumlahlahnya jauh lebih tinggi dari target maupun realisasi 2017. Dari total target 2.500 KUMKM, rinciannya untuk sertifikasi SNI, ISO/HACCP sebanyak 330 KUMKM, sertifikasi hak merek/indikasi geografis mencapai 1.514 KUMKM, sertifikasi halal 100 KUMKM dan sertifikasi hak cipta/desain industri mencapai 556 KUMKM.

Siti menyebutkan, Wonosobo memiliki potensi pengembangan sektor KUMKM cukup tinggi. Terbukti, jumlah UMKM saat ini telah mencapai 59.405 unit. Mayoritas unit usaha bergerak di bidang pertanian, sedangkan sisanya dari sektor perdagangan, industri dan jasa aneka aneka usaha.

"Kabupaten Wonosobo juga terkenal sebagai daerah penghasil batik dengan berbagai motif, salah satunya Batik Kembang Keli dan Batik Talun Ombo yang berasal dari Kecamatan Sapuran," terang dia.

Dukungan Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam hal kebijakan dan strategi khusus untuk mengoptimalkan berbagai potensi dan keunggulan yang dimiliki harus dioptimalkan, serta memproyeksikan pengembangan potensi-potensi tersebut dengan pembinaan dan pendampingan secara khusus.

"Pelaku usaha mempunyai kegiatan ekonomi produktif, ini bisa menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan," tandas dia.

Para pelaku UMKM harus terus meningkatkan daya saing, produktivitas dan mutu produk atau jasa mereka, agar mampu bersaing dengan produk-produk dari negara lain. Dalam jangka panjang, konsumen akan memperhatikan kualitas barang ketimbang harga yang murah. Karena itu, penting bagi UMKM untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produknya, serta melakukan efisiensi proses produksinya.

Diharapkan, harga produk jauh lebih murah, tetapi memiliki kualitas yang baik, sehingga akan diperhitungkan dan dipilih oleh konsumen. Peningkatan produktivitas dan mutu produk atau jasa yang dihasilkan UMKM tidak akan optimal, apabila tidak sesuai persyaratan atau standar yang telah disepakati secara nasional, regional maupun internasional.

"Kami akan berupaya turun ke bawah, menjembatani pelaku UMKM agar makin berkualitas," bebernya.

Sementara itu, Kepala Bidang Koperasi dan UKM Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kabupaten Wonosobo, Siti Nurmar Asiyah menyebutkan, saat ini jumlah UMKM yang tercatat mencapai 59.405 usaha.

"Kami terus mendorong agar mereka naik kelas. Kami mengusulkan 150 KUMKM tersertivikasi, baik hak cipta produk, sertifikasi halal dan sertifikasi ISO agar produk olahan maupun kerajinan dari Wonosobo diterima pasar nasional sampai internasional," harap dia.

(M Abdul Rohman /SMNetwork /CN39 )