image

Foto: Istimewa

10 Februari 2018 | 01:49 WIB | Suara Banyumas

Banyak Anak Muda terlibat Penyalahgunaan Obat

BANJARNEGARA,suaramerdeka.com- Aktifitas penyalahgunaan obat makin meningkat dan hal tersebut laksana fenomena gunung es. Oleh karena itu diperlukan kepedulian dan kerjasama berbagai pihak dalam menekan dan memberantas penyalahgunaan obat.

Hal tersebut disampaikan anggota DPR RI Komisi IX, Amelia Anggraini, saat menyampaikan sosialisasi waspada penyalahgunaan obat dan obat ilegal, di Kecamatan Punggelan, Banjarnegara. '

''Penyalahgunaanobat sesungguhnya laksana gunung es yang mengancam keberlangsungan negara. Sebuah kenyataan pahit yang mengkhawatirkan, karena kecenderungannya semakin meningkat di tambah banyak di antara para pelaku adalah anak-anak muda bahkan ada yang di bawah umur,'' katanya. D

Ditambahkan akhir-akhir ini telah terjadi adanya peralihan tren dari penyalahgunaan narkoba ke penyalahgunaan obat. Hal ini kemudian membuat Presiden Joko Widodo mengeluarkan instruksi penanggulangan dan pemberantasan obat ilegal, serta penyalahgunaan obat.

''Pertama, yang harus dilakukan adalah preventif promotif dengan mengajak masyarakat untuk ikut mengawasi dan melaporkan jika ditemui penyalahgunaan di sekitarnya. Langkah tersebut nantinya bisa disinergikan dengan kepolisian, kejaksaan, untuk melakukan tindakan hukum,'' imbuhnya. 

Selain itu, imigrasi dan bea cukai juga bisa berperan dengan cara melakukan pengawasan, dan pengetatan, keluar masuk obat. Masyarakat Indonesia dihebohkan dengan kasus peredaran Obat terlarang Paracetamol Caffein Caresoprodol (PCC), pertama kali ditemukan di Kendari Sulawesi Tenggara yang menelan korban sebanyak 76 yang sebagian besar adalah remaja. Beberapa di antaranya meninggal dunia dan sebagian besar dirawat di Rumah Sakit Jiwa. 

DiJawa Tengah, ternyata pertama kali ditemukan dan digrebek pabriknya itu berada di Jalan Raya Baturraden, Kelurahan Pabuaran, Purwokerto Utara, pada bulan September 2017. Kemudian ditemukan di Solo dan Semarang. Di Solo dapat memproduksi 50 ribu pil per hari, sementara pabrik PCC di Semarang mampu memproduksi 9 juta PCC dan Dextro setiap harinya. 

''Sayamenghimbau kita berhati-hati dalam melakukan transaksi obat. Pastikan bahwa obat atau pun jamu yang kita konsumsi tersebut adalah obat yang teregistrasi pada BPOM. Caranya cukup mudah untuk mengetahui obat-obat yang kita konsumsi legal atau tidak. Yitu dengan cara mengecek nomor registrasi produk di website resmi BPOM pada www.bpom.co.id,'' katanya. 

DPRRI Komisi IX sesuai dengan tugas dan wewenangnya telah merekomendasikan peran BPOM diperluas dan diperkuat fungsi penindakannya. Kementerian Kesehatan harus segera merevisi empat Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) yang sebelumnya telah direkomendasikan Komisi IX. 

''Artinyadalam hal ini DPR RI betul-betul bekerja seoptimal mungkin sesuai kewenangannya untuk terus meningkatkan taraf kesehatan Masyarakat Indonesia,'' pungkasnya.

(M Syarif SW /SMNetwork /CN39 )