image

Pemberian vaksin flu. (Foto: suaramerdeka.com/Setiady Dwi)

08 Februari 2018 | 16:48 WIB | Liputan Khusus

Tanaman Obat Simpan Potensi Luar Biasa

BANDUNG, suaramerdeka.com- Peneliti senior PT Bio Farma, Neneng Nurainy memang memaparkan seputaran vaksin terkini termasuk produk lifescience yang menjadi garapan utama BUMN farmasi itu. 
 
Hanya saja, dia tampaknya ingin membangun kesadaran lain akan potensi besar herbal Indonesia. Tapi jangan lantas diartikan apa-apa. 
 
"Chemical tampaknya sudah mentok ya, nah biodiversity ini potensinya cukup besar, tinggal perlu sinergi di antara pihak seperti akademisi, kalangan bisnis, dan juga pemerintah sendiri," katanya dalam workshop media bertajuk "Towards Leading Lifescience Company" di Cirebon, Rabu (7/2).
 
Menurut dia, dari sekitar 30 ribu tanaman herbal, baru sekitar 1.200 jenis yang bisa dimanfaatkan padahal ada 7.500 jenis lainnya masih dieksplorasi guna dapat memberikan manfaat dalam khazanah pengobatan dari potensi natural tersebut.
 
"Di kita sifatnya masih simplisia," katanya sambil mencontohkan seduhan dengan memanfaatkan bagian tanaman tersebut yang kerap menjadi kebiasaan masyarakat.
 
Secara pasar, dia dengan mengutip sejumlah sumber menyebut potensinya cukup tinggi. Kebutuhan bahan baku jahe misalnya bisa mencapai 5.000 ton pertahun, sementara kapulaga dan temulawak bisa sekitar 3.000 ton, serta kencur sebanyak 2.000 ton pertahunnya.
 
Hal itu tak terlepas dari tren penggunaan tanaman obat di kalangan masyarakat yang terus menunjukan peningkatan. Indikasinya dari pertumbuhan pasar obat herbal. Pada 2007, nilainya hanya Rp 6 triliun. Delapan tahun kemudian, angkanya sudah menyentuh angka Rp 20 triliun.
 
Pada 2010, sebanyak 6.533 jenis produk jamu dihasilkan produk lokal. Dari jumlah tersebut, sekitar 3.138 produk sudah bisa dinilai khasiatnya. Produk-produk tersebut berasal dari 464 tanaman herbal.
 
Merujuk data Badan POM, jumlah produk yang terdaftar mencapai 8.028 buah. Porsi obat tradisional mencapai 3,9 persen dari posisi tersebut. Dan masyarakat, ada kecenderungan mengonsumsi produk natural itu tanpa banyak pertimbangan sekalipun kadang harganya mahal.
 
Sejurus kemudian, Neneng Nurainy mewanti-wanti, bahwa pernyataannya itu bukan berarti BUMN farmasi yang berbasis di Bandung itu tengah melirik potensi tersebut. Bio Farma tetap dengan konsentrasinya sebagai pemain vaksin.
 
"Bukan itu, apalagi menjadi pemainnya, karena sayang saja dengan potensi yang kita miliki. Bukan apa-apa, (belerang) Kawah Ijen saja itu digarapnya ternyata oleh peneliti Jerman," tandasnya.
 
Neneng Nurainy tak menampik bahwa masih ada kelemahan dalam menggarap potensi natural itu. Di antaranya menghadirkan produk terstandarisasi sehingga mempunyai daya saing. Apa perlu Bio Farma, yang berpengalaman sebagai perusahaan kelas dunia, bikin anak perusahaan untuk menggarapnya. "Nah, itu cukup menarik sepertinya," katanya sambil terkekeh.

(Setiady Dwi /SMNetwork /CN41 )