image

Foto: Istimewa

13 Januari 2018 | 08:00 WIB | Nasional

Kebijakan Perekrutan Pekerja Migran Langsung Malaysia Harus Jadi Momentum Evaluasi

JAKARTA, suaramerdeka.com -Penerapan kebijakan perekrutan langsung pekerja migran oleh Malaysia sudah mulai diberlakukan sejak 1 Januari yang lalu. Walaupun berseberangan dengan mekanisme perekrutan dan pengiriman yang ada di Indonesia, pemerintah seharusnya menjadikan hal ini sebagai momentum untuk evaluasi.

Kepala Bagian Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Hizkia Respatiadi mengatakan, banyak hal terkait pengiriman pekerja migran oleh Indonesia yang harus dievaluasi. Keinginan pemerintah Malaysia untuk melakukan perekrutan langsung harus dilihat dari akar permasalahannya, yaitu di sisi demand maupun supply.

Dari sisi demand, hal ini turut dipengaruhi kebutuhan atau permintaan dalam negeri Malaysia di mana mereka memerlukan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dalam jumlah besar dan dalam waktu yang sesegera mungkin.

"Dari sisi supply, prosedur birokratis Indonesia yang memakan waktu lama dan biaya mahal menyulitkan para calon pekerja migran yang ingin memproses keberangkatannya secara legal, apalagi jika yang bersangkutan berasal dari keluarga kurang mampu. Hal ini membuat mereka mudah tergiur dengan tawaran untuk berangkat ke luar negeri secara ilegal. Cara ilegal memang menghabiskan waktu yang lebih sedikit dan biaya yang lebih murah, namun tentunya menimbulkan risiko bagi perlindungan bagi mereka," terang Hizkia.

Hasil penelitian CIPS menunjukkan prosedur pendaftaran resmi atau legal untuk sektor informal memerlukan waktu 90 hari dengan biaya mencapai lebih dari Rp 8 juta. Untuk sektor formal, diperlukan waktu sekitar 30 hari dan biaya hingga lebih dari Rp 30 juta (termasuk biaya agen Rp 25 juta).

"Jumlah ini bukanlah jumlah yang kecil untuk mereka. Bekerja kan untuk memperbaiki hidup, tapi mereka justru dibebani berbagai biaya yang memberatkan, terutama untuk mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu. Lamanya prosedur juga merugikan mereka karena waktu tunggu keberangkatan menjadi semakin lama," terang Hizkia.

(Andika Primasiwi /SMNetwork /CN26 )