image

foto: suaramerdeka.com/dok

14 September 2017 | 21:15 WIB | Suara Banyumas

Ganjar: Keluarga Miskin di Jateng Masih Cukup Banyak

BANJARNEGARA, suaramerdeka.com - Keluarga Hafidin yang dilaporkan hidup menderita ternyata sudah mendapatkan berbagai bantuan dari pemerintah. Di antaranya mendapatkan bantuan dari Program Keluarga Harapan (PKH) pemerintah pusat sebesar Rp 1,7 juta pertahun, menerima Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Keluarga Sekahtera (KKS), dan beras keluarga sejahtera (Rasta).

Fakta itu disampaikan sendiri oleh ibunda Hafidin, Biyah (42) kepada Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, yang mengunjungi rumahnya, Kamis (14/9) sore. Biyah juga mengatakan, bahwa tidak benar anaknya, Hafidin, bekerja sendirian untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

"Nggih mboten kerja, wong masih sekolah," kata Biyah.

Selama ini Biyah tinggal bersama ayahnya, Sumedi (82) dan Hafidin menempati rumah saudaranya. Rumahnya sendiri sudah ambruk karena termakan usia. Dalam waktu dekat Biyah akan dibangunkan rumah dari bantuan Presiden Jokowi. Presiden memberi bantuan Rp 30 juta dengan rincian Rp 20 juta untuk pembangunan rumah dan Rp 10 juta untuk pendidikan Hafidin.

Kaki Biyah yang membengkak karena penyakit Rheumatik kini berangsur sembuh. Ia sudah mendapatkan biaya pengobatan gratis dari pemerintah untuk pemeriksaan berkala di rumah sakit.

"Sekarang sudah mendingan," tambah Biyah.

Sedangkan Hafidin yang duduk di samping Biyah tidak banyak bicara. Ia hanya mengatakan pada Ganjar untuk terus sekolah.

"Saya ingin jadi polisi," katanya.

Kunjungan Ganjar ke rumah Hafidin, Desa Kebutuhjurang, Kecamatan Pagedongan, Banjarnegara, menarik perhatian warga. Perangkat desa setempat dan guru sekolah Hafidin juga turut mendampingi.

Kepada warga, Ganjar meminta bantuan untuk kerja bakti membangun rumah Hafidin.

"Gotong royong bangun rumah ya," kata Ganjar.

"Siaaap," jawab mereka serempak.

Kepada wartawan, Ganjar mengatakan, kedatangannya hanya untuk memastikan data. Ketika membaca berita Hafidin, ia langsung memerintahkan tenaga kerja sosial kemasyarakatan (TKSK) Kecamatan Pagedongan untuk mengecek ke lokasi. Ternyata, ia mendapat laporan bahwa cerita di lapangan tidak sedramatis di media.

"Bahwa rumahnya ambruk benar, tapi ternyata pemerintah juga sudah memberikan bermacam bantuan. Keluarga ini penerima PKH, KIS, dan KIP. Jadi daripada memberitakan dengan dramatis lebih baik apa adanya saja," katanya.

Meski demikian, Ganjar berterimakasih pada masyarakat dan berbagai pihak yang telah turut membantu.

"Pak presiden bantu rumah, pendidikan Hafidin sudah terjamin, tadi juga kita serahkan kasur, kompor dan lain-lain untuk
keperluan rumah tangga," katanya.

Ditambahkannya, keluarga miskin di Jateng memang masih sangat banyak. Banyak juga yang tidak tersentuh bantuan seperti PKH, Jamkesmas, Jamkesmaskot, KIS dan KIS. Kepada mereka yang belum tersentuh bantuan, Pemprov Jateng mengeluarkan Kartu Jateng Sejahtera. Pemegang kartu ini berhak atas bantuan uang tunai bulanan untuk menunjang kebutuhan sehari-hari.

Tahun ini, Ganjar membagikan 12.764 KJS. Pemilik kartu akan mendapat bantuan Rp 250.000 per bulan yang diberikan dua kali setahun. Dana berasal dari APBD 2017 senilai total Rp 38,29 miliar. Tahun 2016 lalu, KJS juga diberikan untuk 12.764 warga yang berasal dari dana CSR Bank Jateng.

Kemudian perbaikan rumah tidak layak huni yang jumlahnya masih 1.682.723 unit. Tahun 2017 ini, Pemprov menganggarkan perbaikan RTLH untuk 20.027 rumah. Pada 2018 direncanakan rehabilitasi untuk 30.000 rumah.

Anggaran RTLH ini naik tajam disbanding sebelumnya. Yakni 2.344 rumah tahun 2013, 3.800 tahun 2014, 2.680 tahun 2015, dan 3.601 tahun 2016.

"Cerita seperti ini banyak dan setiap mendapat laporan saya langsung terjunkan TKSK, dalam dua jam sudah di lokasi dan mengecek apa-apa yang dibutuhkan," tandasnya.

(Red /SMNetwork /CN40 )