image

Kuwera di relief Candi Mendut. Foto: Roy Rosenzweig Center for History and New Media

06 Desember 2017 | 16:11 WIB | Kronik

Mengenal Ragam Hias Percandian

SEJAK masa prasejarah, nenek moyang bangsa Indonesia telah mengenal seni menggores pada dinding-dinding gua yang lekat dengan konsep kepercayaan. Oleh sebab itu, tak mengherankan, jika pada perkembangannya, seni rupa berkembang dari seni gores menjadi seni hias berupa relief di dinding-dinding candi.

Relief dapat ditemui di hampir seluruh bangunan candi bercorak Hindu maupun Budha. Biasanya relief dipahatkan di dinding luar candi, baik pada bagian kaki, tubuh, atap candi, pelipit, bidang hias atau panil, dan pilaster.

Ada dua jenis relief yang umum dipahatkan, terdiri dari relief cerita (naratif) dan relief non cerita. Relief naratif memvisualisasikan bentuk cerita yang menggambarkan cerita keagamaan atau pendidikan moral. Cerita tersebut dapat dibaca searah jarum jam (pradaksina) atau berlawanan arah jarum jam (prasawya).

Sementara itu relief non cerita dibagi ke dalam empat ragam hias. Yakni ragam hias geometris (ragam hias tertua), ragam hias tumbuh-tumbuhan/flora, ragam hias binatang/fauna, dan ragam hias kombinasi. Ragam hias tumbuh-tumbuhan juga berkembang dengan banyak variasi, yakni sulur lengkung dan sulur gelung (sulur tumbuhan yang melingkar dan saling berhubungan) dan purnakalasa dan purnaghata (bunga teratai yang keluar dari jambangan).

Sebagai contoh, bolehlah kita ambil Candi Prambanan yang banyak dihiasi dengan relief-relief ragam hias tumbuh-tumbuhan. Di sisi atas tubuh dan atap candi, ragam hias yang mendominasi berbentuk untaian mutiara dan bunga terompet. Kemudian ragam hias geometris bisa ditemui di bagian pelipit mengelilingi kaki, tubuh, dan pagar langkan candi.

Sementara untuk ragam hias kombinasi antara lain dapat dilihat di Candi Kalasan. Ragam hias yang digunakan adalah paduan bentuk geometris dan bunga melati, digunakan untuk menghiasi bidang-bidang kosong di luar dinding candi.

(Fadhil Nugroho Adi /SMNetwork /CN41 )