image

Foto: Oyin Ayashi

05 Desember 2017 | 16:37 WIB | Pringgitan

Menghidupkan Tri Purusa dalam Rumah Tradisional Jawa

BANGUNAN rumah yang mengacu pada filosofi Jawa tidak sekadar berdiri tanpa kisah di belakangnya. Ada banyak nilai yang terkandung di dalamnya, dan seringkali berkaitan erat dengan penghayatan pada diri manusia.

Seperti yang tercermin dalam Tri Purusa yang bermakna, dalam diri manusia ada bentuk sistem konsentris, yang terdiri dari unsur suksma kawekas, suksma sejati dan roh suci.

Unsur suksma kawekas memiliki dimensi yang absolut dan ada pada keEsaan Tuhan. Nilai ini bisa ditafsirkan sebagai diri manusia dalam lingkungan yang tidak ditentukan batas-batas fisik, dalam bentuk gejala apapun. Jika diwujudkan dalam sistem rumah Jawa, akan diarahkan pada keberadaan senthong tengah di rumah utama atau rumah inti (dalem tengah).

Unsur suksma sejati digambarkan sebagai lapisan massa yang bertindak menyelimuti sistem suksma kawekas. Lapisan ini akan hidup dan tumbuh sebagai jiwa manusia. Nilai ini menunjukkan keterbatasan yang membuka diri, artinya terbatas dalam batas-batas tanggung jawabnya sendiri dan membuka diri terhadap pengaruh kehidupan di sekitarnya.

Dalam bagian rumah, maka unsur ini diwujudkan dalam keberadaan rumah inti atau rumah utama yang dibatasi batas-batas fisik atau sekadar batas visual (misal penggunaan rana/seketeng terbatas) atau juga gebyog.

Lalu unsur roh suci, digambarkan sebagai kulit luar yang tebal dan lunak, bahkan cenderung bersifat kebendaan seperti kabut putih yang menyelimuti sebuah massa. Massa yang diselubungi kulit ini adalah suksma sejati dan suksma kawekas yang ada lebih dulu di dalamnya.

Jika diterjemahkan dalam rumah Jawa, roh suci nampak pada penampilan halaman suatu rumah tinggal. Penampilan yang alamiah dalam suatu tanah halaman menjelaskan tentang kejujuran. Sebab permukaan yang alamiah menggambarkan penghargaan manusia terhadap keberadaan unsur alam yang memberikan penghidupan.

(Fadhil Nugroho Adi /SMNetwork /CN41 )