image

Foto: Istimewa

23 November 2017 | 16:45 WIB | Kronik

Bendera dan Semboyan Negara, Warisan Majapahit yang Dipertahankan

WARISAN leluhur terhadap keberlangsungan sejarah negeri ini seolah tak kenal luntur. Sejumlah identitas nasional yang saat ini kita kenal ternyata memiliki kedekatan dengan kehidupan di masa lampau.

Sebut saja semboyan negara "bhinneka tunggal ika". Semboyan ini ternyata berasal dari Kakawin Sutasoma yang ditulis Mpu Tantular, seorang pujangga mahsyur Kerajaan Majapahit. Semboyan tersebut dipetik dari sesanti "Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharmma Mangrwa".

Dalam Sutasoma Pupuh 139:5 tertulis,

Rwaneka dhatu winuwus wara Buddha Wiswa,

Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen,

Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,

Bhinneka tunggal ika tan han dharmma mangrwa.

(Konon dikatakan bahwa wujud Buddha dan Siwa itu berbeda. Mereka memang berbeda. Namun, kita bisa mengenali perbedaannya dalam sekilas tanpa menghayatinya lebih dalam, karena kebenaran yang diajarkan Buddha dan Siwa itu sesunggunya sama, satu jua. Mereka memang berbeda atau terbelah, namun hakikatnya adalah sama. Karena tidak ada kebenaran yang mendua).

Jika dulu semboyan ini dipergunakan untuk mempersatukan dua agama yakni Buddha dan Siwa serta menyatukan nusantara, maka saat ini semboyan tersebut diadaptasi untuk menyatukan keragaman suku, ras, etnik serta religi di Tanah Air. Sehingga tidak berlebihan jika kemudian dimaknai sebagai "berbeda-beda namun satu jua".

Selain semboyan negara, warna bendera Indonesia juga diadaptasi dari zaman Kerajaan Majapahit. Mpu Prapanca, dalam kitab Negarakertagama menulis, warna merah dan putih pernah digunakan sebagai bendera yang dikibarkan dalam upacara hari kebesaran Raja Hayam Wuruk. Tak hanya itu, gambar-gambar yang dilukiskan pada kereta-kereta para petinggi Majapahit yang menghadiri upacara tersebut juga bermotif merah dan putih.

Warna putih diambil dari warna alami kapuk yang ditenun menjadi selembar kain. Sementara warna merah diperoleh dari perasan daun pohon jati, bunga belimbing wuluh, atau kulit buah manggis. Kedua warna itu merupakan warna yang dimuliakan dan dijadikan lambang kebesaran Majapahit.

(Fadhil Nugroho Adi /SMNetwork /CN41 )