image

Foto: Qureta

07 November 2017 | 16:54 WIB | Kejawen

Bubuksah-Gagang Aking, Dua Bersaudara yang Diabadikan di Relief Tiga Candi

PAHATAN-pahatan relief di dinding sejumlah candi di Jawa Timur memperlihatkan kombinasi berbagai ragam hias yang indah dan menarik. Pada umumnya, relief-relief gaya Jawa Timur berbentuk agak pipih (gepeng) seperti wayang, berbeda dengan relief-relief gaya Jawa Tengah yang berbentuk naturalis atau realsitik mendekati bentuk yang sebenarnya.

Dari relief, seseorang diajak melongok kehidupan masyarakat sehari-hari pada masa lampau, berikut model-model bangunannya, berbagai pola ragam hias, serta tentang filsafat dan kepercayaan nenek moyang pada waktu itu. Untuk pembacaan suatu adegan dalam relief, dapat dilakukan dengan mengikuti arah jarum jam (pradaksina) atau juga berkebalikan dengan arah jarum jam (prasawya).

Di komplek percandian Penataran, setidaknya ada delapan kisah yang dipahatkan di dinding candi. Dari delapan cerita yang dikisahkan dalam bentuk relief, ada satu kisah yang barangkali belum mahsyur di kalangan masyarakat luas. Yakni kisah Bubuksah dan Gagang Aking.

Relief ini berlokasi di dinding pendopo teras sisi timur. Adegannya dibaca secaraprasawya, atau dari kiri ke kanan.

Cerita singkatnya, Bubuksah dan Gagang Aking adalah dua saudara. Mereka bertapa untuk mencapai tingkat kesempurnaan hidup. Dalam melaksanakan lelaku, Bubuksah makan segala makanan hingga badannya gemuk. Sedangkan Gagang Aking melakukan lelaku dengan menjauhi makan minum hingga tubuhnya kurus kering.

Pada suatu ketika Batara Guru mengutus Kalawijaya yang sebenarnya seorang dewa, untuk menyamar menjadi harimau putih untuk menguji kedua kakak beradik tersebut. Kalawijaya menginginkan daging manusia. Ketika permintaan ini disampaikan ke Gagang Aking, serta merta ditolaknya sebab tubuh Gagang Aking kurus.

Tanpa dinyana, Bubuksah mau menyediakan diri sepenuhnya untuk dimakan Kalawijaya yang berubah menjadi harimau putih, karena dirinya dalam lelaku juga memakan segala jenis makanan dan hewan. Mendengar ketulusan hati Bubuksah, Kalawijaya menampakkan wujud aslinya.

Bubuksah pun dinyatakan lulus dalam ujian. Setelah meninggal, roh Bubuksah didukung di atas tubuh harimau tersebut, sementara Gagang Aking hanya bergelantung di ekornya saja.

Relief Bubuksah-Gagang Aking juga dapat disaksikan di Candi Surowono di daerah Pare, Kediri, dan di Candi Gambar Wetan yang terletak di perkebunan Gambar, Nglegok, Blitar.

(Fadhil Nugroho Adi /SMNetwork /CN41 )