image

Foto: wayangkulitpurwo.blogspot.com

07 November 2017 | 16:08 WIB | Pringgitan

Wayang Purwa, The Compelling Religious Mythology (Bagian II)

Pada masa Islam, Sultan Demak yang bergelar Syah Alam Akbar I sangat menggemari pertunjukan wayang serta seni karawitannya dan bahkan seringkali berpentas sebagai dalang. Beliau mengubah wujud gambar manusia pada wayang dengan ciptaan baru berkat bantuan para wali.

Hal ini disebabkan menurut ajaran Islam, penggambaran yang bersifat wujud manusia merupakan suatu pertentangan besar dan juga diharamkan. Akhirnya terbentulah suatu bentuk wayang seperti yang nampak sekarang ini dan dibuat dari kulit kerbau serta diberi gapit (tangkai).

Tiga tahun setelah Sultan Syah Alam Akbar I bertahta, Sunan Prawoto membuat wayang-wayang tambahan yang berwujud raksasa dan kera serta mengubah patokan-patokan lakon atau cerita wayang. Kemudian Sunan Bonang menciptakan cara menjajarkan (menyimping) wayang di atas pentas dengan membaginya ke sisi kiri dan kanan. 

Sunan Kalijaga menciptakan kelir (layar), mengganti kayu penyimping wayang dengan debog (batang pisang) serta menambah sarana pentas lainnya seperti blencong (lampu), kotak wayang dan kekayon atau kayon (gunungan). Sultan Syah Alam Akbar I juga menciptakan wayang baru berupa gajah serta pasukan prajurit yang lazim disebut prampogan. Pada masa itu rupanya Sunan Kuduslah yang sering berpentas sebagai dalang dan pakelirannya ditambah lagi dengan suluk greget saut dan ada-ada yang ditandai dengan sengkalan geni dadi suci ning rat (1443 Çaka). 

Sesudah itu nampak perkembangan wayang terhenti dan baru pada masa pemerintahan Sultan Syah Alam Akbar III yang terkenal sebagai Sultan Trenggono atau Sultan Bintoro  Raja Demak terakhir, wayang-wayang nampak disempurnakan lagi dengan memperbesar bentuknya serta memperindah bentuk mata, mulut, dan telinga wayang. Semuanya itu diperingati dengan sengkalan resi pitu karya tunggal (1477 Çaka).

Susuhunan Ratutunggal dari Giri membuat pedoman dalam membuat mata wayang, antara lain mata liyepan dan mata thelenh-thelengan. Untuk wayang raksasa dan kera ditentukan bermata dua buah, sedang untuk para dewa berbusana cawat seperti busana arca.

Mulai saat itu pula wayang-wayang diberi warna gemerlapan dengan cat emas dan kemudian wayang-wayang tersebut diberi nama Kidang Kencana yang diperingati dengan sebuah sengkala berwujud wayang Bathara Guru atau Sang Hyang Girinata mengendarai andini-andana yang harus dibaca sebagai slira dwija dadi raja (1478 Çaka).

Dalam kitab Centini juga dinyatakan bahwa Sunan Ratutunggal menciptakan wayang Gedog dengan wanda berdasarkan wanda wayang Purwa, namun tanoa raksasa dan kera. Yang dijadikan lakon pokok adalah empat negara bersaudara yakni Jenggala, Mamenang, Ngurawan dan Singasari. Tokoh sabrangan ialah raja Klana dari negara Bali dengan bertentara orang Bugis.

Untuk memperingati penciptaannya itu dibuatlah sebuah sengkala memet berbentuk Sang Hyang Nilakanta memegang tombak kecil dibelit seekor naga yang dibaca gaman naga kinarya ing udipatya 1485 Çaka). Bersamaan dengan penciptaan wayang Gedog itulah, Sunan Bonang menciptakan tokoh wayang Damarwulan dengan pokok cerita masa pemerintahan Ratu Ayu Dewi Suhita pada taun 1315 Çaka.

(Bersambung)

Baca sebelumnya: Wayang Purwa, The Compelling Religious Mythology (Bagian I)

(Fadhil Nugroho Adi /SMNetwork /CN41 )