image

Foto: Catatan Mama

07 Oktober 2017 | 19:37 WIB | Pringgitan

Masih Ingat dengan Dolanan Bekelan?


Permainan tradisional memang mengasyikkan. Sayangnya, eksistensi permainan lokal itu mulai tergerus permainan virtual yang biasa dimainkan melalui gadget. Padahal, banyak nilai-nilai penting yang dapat diserap dalam memainkan permainan tradisional.

Salah satunya permainan bekelan. Rasa-rasanya, hampir seluruh penduduk Indonesia khususnya Jawa, pernah memainkan permainan ini. Biasanya bekelan dimainkan oleh anak-anak perempuan. Kadang juga dimainkan anak laki-laki, namun tak banyak jumlahnya.

Nama bekelan atau bekel sendiri berasal dari nama bola karet yang dimainkan. Dalam bekelan, dibutuhkan bola karet sebesar bola pingpong dan biji bekel berupa batu kecil atau benda lain berjumlah 5-10 buah.

Permainan ini biasanya dilakukan ketika senggang atau pulang sekolah. Biasanya bekelan dimainkan 2-4 anak. Yang mengasyikkan, meski tak seheboh permainan gobag sodor yang dimainkan di lapangan, namun bekelan benar-benar menguji ketangkasan pemain.

Sebetulnya, permainan bekelan tergolong permainan tradisional yang mendapat pengaruh Belanda. Dulu, permainan ini milik anak gedong karena dimainkan di dalam rumah. Biji bekel yang terbuat dari logam hanya dapat dimiliki orang kaya. Namun lama kelamaan permainan ini berkembang keluar karena banyak dimainkan di sekolah.

Cara Bermain

Permainan dimulai dengan melemparkan bola ke atas dan menghamparkan biji. Setelah bola memantul sekali, bola harus diambil kembali. Pemain pertama harus mulai dengan semua biji dalam satu tangan dan bijinya akan dijatuhkan waktu bola masih ada di udara. Setiap kali bola dilempar, pemain akan mengambil satu biji dan menangkap bolanya dengan tangan yang sama hingga semua biji di lantai habis.

Jika sudah habis, maka pemain harus mengubah susunan biji menjadi bentuk tertentu sebelum diambil. Biasanya biji ditata dengan posisi pit (berbentuk seperti kursi), ro (kebalikan posisi pit), cin (singkatan "licin" yaitu posisi miring tanpa ada bintik di permukaan biji), dan peng (singkatan "bopeng" yaitu posisi miring dengan bintik di permukaan biji).

Apa Filosofinya?

Dalam permainan bekelan, tersimpan nilai filosofi ingat kepada Tuhan tanpa melupakan persaudaraan. Ini tercermin ketika bola dilempar ke atas dan biji bekel yang diambil, dijadikan satu, lalu disebar. Ini bermakna, seluruh manusia adalah saudara sehingga harus hidup dengan rukun.

Permainan ini juga melatih ketangkasan dan daya nalar anak dalam mengambil bola bekel secara cepat dan tepat. Bekelan juga membutuhkan kesabaran dalam bertindak, sehingga menciptakan sesuatu yang positif, seperti tidak gegabah dalam mengambil keputusan.

(Fadhil Nugroho Adi /SMNetwork /CN41 )

KULTUR TERKINI