image

Kompleks makam di Trowulan ini juga diyakini sebagai makam Putri Cempa. Sumber: Marwan Sidarta

14 November 2017 | 16:31 WIB | Pringgitan

Mengintip Sosok Ayu Putri Cempa

TERLETAK di Kampung Praon, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari, Solo, makam Putri Cempa masih dikeramatkan hingga hari ini. Menurut juru kunci makam setempat, pada hari-hari tertentu, banyak peziarah datang membawa setumpuk asa. Banyak pengakuan, hajat mereka terkabul usai lelaku di makam tersebut.

Ada beberapa versi kisah yang mengungkap jatidiri Putri Cempa. Antara lain kisah yang menerangkan bahwa Putri Cempa merupakan istri terakhir Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V, yang berasal dari negeri Campa di daratan Tiongkok. Usai menikah, Putri Cempa berganti nama menjadi Dewi Dwarawati. Beliau berputera Raden Patah, yang kemudian mendirikan Kerajaan Islam Demak Bintara.

Sementara itu Babad Pajang menyebut jika Putri Cempa merupakan istri Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya yang memimpin Pajang.

Terkait dengan beragam kisah hidup Putri Cempa itu, belum bisa dipastikan apakah Putri Cempa yang dimakamkan di Nusukan merupakan istri Prabu Brawijaya V. Juru kunci makam dan warga sekitar hanya sebatas mengerti jika Putri Cempa yang dimakamkan di tempat tersebut berada dari Majapahit. Konon, sang putri mengembara hingga tiba di daerah yang kini masuk wilayah Kecamatan Banjarsari itu.

Wangsit dari Mbah Buyut

Ketika ditemukan, makam Putri Cempa masih berupa gundukan tanah. Juru kunci makam, mbah Darmin, menyatakan, simbah buyutnyalah yang memberikannya ilham jika makam tersebut merupakan makam putri bangsawan dari Demak Bintara yang bernama putri Chang-Wa dan tidak memiliki suami. Putri Chang-Wa lantas disebut Cempa, yang kemudian juga disebut Putri Cempawati. Diyakini, Putri Cempa hingga akhir hayatnya di Kampung Praon lantaran sakit yang ia derita.

Makam Putri Cempa bercampur dengan pemakaman umum yang cukup luas. Di dalam kompleks pemakaman tersebut terdapat tiga pohon beringin berusia tua dengan ukuran yang sangat besar. Salah satu pohon beringin itu memayungi cungkup Putri Cempa dan dua embannya, Sulastri dan Cepuk.

Di sisi selatan cungkup Putri Cempa, terdapat sebuah makam yang juga dikeramatkan dan kerap menjadi tujuan ritual. Makam tersebut diduga makam RAy Andayawati, salah satu putri dari dinasti Mangkunegaran yang meninggal ketika masih muda.

Kisah mistis juga menyeruak dari makam yang tersohor wingit itu. Penampakan ular besar nan panjang berwarna hitam kerap nampak di sana. Namun ular tersebut tidak mengganggu, dan muncul ketika ada orang yang bertindak tak senonoh di makam tersebut.

Warga setempat juga mengaku pernah melihat wujud Putri Cempa. Menurut pengakuan, Putri Cempa berparas cantik, berrambut panjang, dengan padanan busana adat Jawa.

(Fadhil Nugroho Adi /SMNetwork /CN41 )