image

foto ilustrasi - istimewa

10 Desember 2017 | 21:44 WIB | Medis

Kenali Hepatitis Sejak Dini

PENYAKIT  Hepatitis merupakan cikal bakal dari kanker hati. Hepatitis dapat merusak fungsi organ hati dan kerja hati sebagai penetral racun dan system pencernaan makanan dalam tubuh yang mengurai sari-sari makanan untuk kemudian disebarkan ke seluruh organ tubuh yang sangat penting bagi manusia. Hepatitis menyerang ketika seluruh sel-sel hati meradang apapun sebabnya. Demikian diungkapkan dokter Hirlan SpPD KGEH, dari RS Columbia Asia Semarang.

Menurut dokter Hirlan, bahwa penyebab tersebut adalah beberapa jenis virus yang menyerang dan menyebabkan peradangan dan kerusakan pada sel-sel dan fungsi organ hati. Hepatitis memiliki hubungan yang sangat erat dengan penyakit gangguan fungsi hati.

Lalu bagaimana awal dari gejala hepatitis? "Pada hepatitis akut gejalanya hampir sama dengan semua penyakit virus yaitu demam, keluhan-keluhan seperti flu, nyeri tulang yang sering diabaikan. Kasus-kasus seperti ini berlanjut dan bisa menjadi kronik. Bentuk infeksinya berat, seringkali menimbulkan kuning pada kulit, dan apabila diperiksa mendetail di laboratorium akan terlihat, ternyata terjadi gangguan fungsi hati," kata dokter Hirlan. 

Dia menambahkan, gejala hepatitis akut ini secara garis besar terbagi menjadi kuning dan tidak kuning. Bagi penderita hepatitis yang kulitnya menguning, biasanya ke dokter bukan karena sakit dengan keluhan kuningnyan, tetapi karena keluhan demam dan kencing yang berwarna gelap, pusing dan nyeri seluruh tubuh. Sebagian besar pada kasus-kasus seperti ini biasanya bisa sembuh(teratasi penyakitnya).

Apa hubungan antara hepatitis A, B dan C ? "Hepatitis yang disebabkan oleh virus hepatitis diberi nama seusia dengan urutan ditemukannya. Dulu disebut hepatitis serum, yang lalu diikuti hepatitis lain yang tidak sama dengan hepatitis A. Pemberian nama penyakit hepatitis sesuai urutan abjad A, B, C, D lalu E. Tidak ada hubungannya satu sama lain.  Kecuali pada Hepatitis B dan D," tambahnya. 

Pada penderita hepatitis D hanya bisa hidup apabila tubuhnya mengandung(HBsAg) Hepatitis B surface Antigen Positif. Karena Hepatitis D berkembang biak di HBsAg. "Jadi, Hepatitis D RNA nya ini masuk pada HBsAg dan berkembang biak di sana. Karena itu, virus Hepatitis D ini selalu bersama-sama dengan HBsAg yang sulit dihilangkan dari tubuh meski pun pasien sembuh, maka hepatitis D ini tergolong penyakit yang sulit disembuhkan," imbuhnya. 

Bagaimana dengan penularan di masing-masing penyakit hepatitis ini? "Berbeda dengan hepatitis A, biasanya gejala yang muncul antara lain flu, demam, seluruh badan terasanyeri. Penyakit ini bisa sembuh, meski di beberapa kasus yang berkepanjangan tetapi tidak menjadi penyakit yang kronik. Virus hepatitis A menular melalui makanan dan minuman. Pada hepatitis B, virus hepatitis kedua yang ditemukan dan kemungkinan menjadi kronik besar terutama jika ditularkan dari ibu ke anak pada saat melahirkan atau penderita tertular virus pada saat balita. Anak yang tertular virus ini dari ibu pada saat bayi dan tidak divaksin, maka lebih dari 90 persen akan menjadi kronik," jawabnya. 
 
Perlu diwaspadai, lanjutnya, karena virus yang ditularkan sejak bayi ini tumbuh menjadi kronik dengan tanda yang tidak jelas. Karena kurangnya pengetahuan pasien, banyak penderita hepatitis B yang datang pada dokter penyakit dalam sudah keadaan kronik( komplikasi ). "Di Indonesia, penyakit hepatitis B ini paling sering menjadi penyebab dari penyakit hati berat, contoh kanker hati (sirosis). Menularnya virus hepatitis B dan C melalui cairan tubuh, seperti kontak lewat ciuman, atau hubungan seksual. Sementara hepatitis D juga menular pada pasien yang mempunyai HBsAg positif melalui cairan tubuh. Sementara, hepatitis D hanya bisa hidup pada pasien yang mengandung HBsAg dan berkembang biak di dalam tubuh penderita. Karena itu virus hepatitis D ini selalu bersama-sama dengan HBsAg. Karena HBsAg ini sulit dihilangkan walau pun pasien sembuh, maka penyakit hepatitis D ini sulit disembuhkan. Dan di Indonesia, penyakit hepatitis D ini masih sangat jarang," tegasnya. 

Apa penyebab munculnya kuning pada kulit tubuh penderita hepatitis? "Warna kuning yang menjadi penanda pasien menderita hepatitis B, disebabkan karena hatinya rusak sehingga tidak bisa memetabolisme dengan baik satu pigmen hasil dari pemecahan leukosit. Seharusnya pigmen dimetabolisme di liver, tetapi karena fungsi hati rusak, maka tidak bisa memetabolisme dengan baik, lalu masuk ke darah menjadi kuning. Warna kuning itu merupakan manifestasi dari kadar bilirubin darah yang meningkat. Virus yang berat satu lagi adalah hepatitis C. virus ini bergerak laten( tenang ). Juga bisa memicu munculnya kanker hati, liver dan kulit berwarna kuning," urainya. 

Keuntungan dari hepatitis C, pasien masih bisa sembuh total. Lalu, bagaimana pengobatan untuk jenis-jenis hepatitis ini ? "Sekarang ini kecenderungan di Indonesia,  pengobatan hepatitis masih mengandalkan injeksi interferon base. Sementara, pengobatan untuk penyakit tipe hepatitis C di dunia dengan minum tablet, angka kesembuhannya justru lebih baik, hanya saja ketersediaan tablet untuk penyakit hepatitis C di Indonesia masih sangat jarang," paparnya. 

"Saya berharap pemerintah bisa cepat memasukkan obat tablet yang diminum untuk kesembuhan penyakit hepatitis. Berdasarkan penelitian di luar negeri, pengobatan dengan tablet ini efektifitasnya baik dansembuh. Di mana 90 persen bisa sembuh dengan kondisi yang memang terkontrol. Disebut sembuh apabila anti HBs nya timbul, maka pasien akan terselamatkan," ujarnya. 

Terpenting adalah pencegahan dari penyakit hepatitis apapun jenisnya. Caranya? "Cara pencegahan efektif hanya dengan vaksinasi hepatitis A dan B. Dan perlu diwaspadai, apabila ibu melahirkan tertular hepatitis B. Maka bayi lahir dalam kurun waktu 12 jam harus segera divaksin pasif dan aktif. Vaksinasi pasif dengan memasukkan zat antinya pada darah, yang bertahan hanya enam bulan. Kemudian perlu vaksinasi lanjutan melalui vaksinasi aktif yang akan mengcover suntikan pasif, selama tiga kali," jawabnya.

Pada vaksinasi hepatitis B, lanjutnya, syaratnya HBsAg negative, anti HBcnya negative, anti HBsnya negative, tetapi biasanya tidak tiga-tiganya. Hanya ini risikonya gagal. Misalnya, bila pasien dengan anti HBc positif itu berarti pasien pernah tertular. "Mungkin tubuhnya mempunyai HbsAg dalam kadar rendah, sehingga kemungkinan vaksinasi akan gagal. Karena itu sebaiknya tubuh memiliki HbsAg negative, anti HBc negative. Apabila dari tiga syarat tersebut, salah satu ada yang positif maka tidak perlu vaksin. Sementara, untuk penyakit hepatitis C belum ada vaksin, maka untuk mencegahnya harus hidup sebersih-bersihnya. Hanya keuntungannya sembuh, sedangkan hepatitis B ada vaksin, tetapi apabila terserang penyakit ini sulit untuk sembuh, hanya terkontrol," tandasnya. 

 

 

(Setiawan Hendra Kelana /SMNetwork /CN40 )