image

Foto: istimewa

19 Oktober 2017 | 13:48 WIB | Medis

Sering Lewatkan Sarapan? Awas Risikonya

TIDAK terbiasa, tak ada waktu, atau sedang dalam program diet. Empat alasan tadi adalah yang paling sering kita dengar dari mereka yang melewatkan sarapan pagi. 

Ya, kaum pria, perokok dan mereka yang sedang menjalani diet cenderung memilih untuk menumpuk kalori harian saat makan siang. Mereka yang melewatkan sarapan, biasanya menghabiskan tidak lebih dari 5 menit untuk makan pagi dan sebagian besar hanya minum kopi atau jus jeruk.

Namun kebiasaan melewatkan sarapan ternyata ada risikonya terhadap kesehatan lho. Orang-orang yang melewatkan sarapan lebih cenderung terkena aterosklerosis, atau penumpukan lemak pada dinding pembuluh darah arteri, daripada orang-orang yang memulai hari dengan sarapan hangat, menurut sebuah penelitian terbaru.

Bahkan setelah peneliti memperhitungkan diet dan faktor risiko lainnya untuk penyakit jantung, mereka yang secara rutin melewatkan sarapan secara signifikan lebih cenderung terkena aterosklerosis dibandingkan yang terbiasa sarapan.

Penulis utama penelitian, Doctor Valentín Fuster dari CNIC di Madrid dan Mount Sinai Heart di New York City mengatakan, "Konsumsi energi yang lebih besar pada pagi hari dapat mendukung kesehatan kardiovaskular."

Peneliti mengkaji data dari kuesioner diet yang diisi oleh 4.052 orang dewasa tanpa riwayat masalah jantung.

Secara keseluruhan, hanya 3 persen peserta mengatakan bahwa mereka tidak sarapan. Sementara 69 persen biasanya mengonsumsi makanan ringan di pagi hari (terhitung 5 persen sampai 20 persen dari total kalori pada hari itu) dan 28 persen mengonsumsi sarapan hangat (mencakup lebih dari 20 persen asupan kalori hari itu).

Dibandingkan dengan orang-orang yang makan sarapan pagi hangat, orang-orang yang mengonsumsi sarapan ringan masih 21 persen lebih mungkin mengalami kerusakan pada arteri utama di leher dan 17 persen lebih mungkin mengalami kerusakan pada pembuluh darah utama di daerah perut.

Selain memiliki risiko aterosklerosis terbesar, orang yang melewatkan sarapan juga memiliki lingkar pinggang yang lebar, indeks massa tubuh, tekanan darah, kadar kolesterol dan kadar gula darah tinggi.

"Banyak orang yang kelebihan berat badan mungkin melewatkan sarapan atau makanan lain dengan harapan menurunkan berat badan. Tetapi harus diingat bahwa penelitian telah berulang kali menunjukkan bahwa hal tersebut bertentangan dengan kepercayaan umum. Kebiasaan semacam itu dapat dikaitkan dengan (penambahan berat badan) dan kemungkinan akan mengarah pada kelainan metabolik. Termasuk peningkatan risiko sindroma metabolik dan diabetes," kata Dr. Prakash Deedwania, penulis tajuk rencana dan peneliti di University of California, San Francisco.

"Memang, penelitian ini telah membuktikan konsep lama bahwa sarapan adalah makanan terpenting hari ini," kata Deedwania pada Reuters Health.

Individu yang rutin sarapan juga cenderung memiliki gaya hidup sehat, berolahraga lebih banyak, makan lebih baik dan merokok lebih sedikit daripada orang-orang yang melewatkan sarapan mereka, kata Marie-Pierre St-Onge, seorang peneliti nutrisi di Columbia University Medical Center di New York City yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Menurut saya, untuk semua orang, mengonsumsi sarapan yang sehat adalah cara yang bagus untuk memenuhi kebutuhan untuk buah-buahan, biji-bijian, protein tanpa lemak," kata St-Onge melalui email.

(VOA /CN33 )