image
13 Agustus 2017 | 12:28 WIB | Medis

Hipertensi Pemicu Komplikasi

Oleh Dr. Witjitra Darmana Samsuria, Sp.PD

SESEORANG yang mengalami tekanan darah yang sangat tinggi, bisa saja mengalami gejala seperti sesak napas, sakit kepala berkepanjangan bahkan hingga mimisan, pandangan yang kabur juga pengelihatan ganda. Hal tersebut bisa mengarah pada gejala hipertensi. Hipertensi yang tanpa penangan serius dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti stroke dan penyakit jantung.

Dokter spesialis penyakit dalam RS Columbia Asia Semarang, Dr. Witjitra DarmanaSamsuria, Sp.PD mengatakan, hipertensi adalah tekanan darah yang lebih tinggi dari nilai rujukan. Rujukan adalah batas atas (sistolik) di bawah 140 mmHg dan batas bawah (diastolik) di bawah 90 mmHg.

Namun saat ini bila seseorang memiliki tekanan darah sistolik di antara 130-140 mmHg dan diastolik di antara 85-90 mmHg, maka itu sudah dapat disebut pre hipertensi. Hipertensi merupakan diagnosa seumur hidup, maka penanganannya harus seumur hidup. "Pengelolaan pola hidup, dan diet rendah garam menjadi salah satu tonggak utama," katanya.

Menurut survei di tahun 2010, hipertensi yang dahulunnya banyak diderita oleh masyarakat negara maju, sekarang bergeser ke masyarakat negara kurang berkembang. Faktor edukasi menjadi faktor yang paling utama. Dimana di negara maju edukasi tentang hipertensi banyak diinformasikan dan para penduduknnya pun banyak yang sadar menjalankan informasi edukasi tersebut.

Dan untuk negara yang belum berkembang, jarangnya informasi edukasi tentang hipertensi menjadi pemicu semakin banyaknya penderita hipertensi. "Tingkat kesadaran di negara maju lebih tinggi. Usia harapan hidup juga meningkatkan insidensi penderita hipertensi," ungkapnya.

Resiko yang ditimbulkan oleh hipertensi salah satunya adalah ke pembuluh darah yang strukturnya berubah.Bila yang terkena pembuluh darah di area jantung maka akan terjadi penyakit jantung iskemik, jika terjadi di area otak akan terjadi kelainan pembuluh darah di otak seperti stroke. Jika di pembuluh darah mata maka bisa tejadi kebutaan, jika terjadi di pembuluh darah di area ginjal, bisa menyebabkan gagal ginjal.

Komplikasi penyakit hipertensi dapat hampir ke semua organ. Wanita hamil pun dapat terkena hipertensi, dikarenakan adanya perubahan hormonal dan salah satu faktor meningkatnya kasus hipertensi adalah kegemukan. "Yang paling fatal pada wanita hamil adalah terjadinya eklampsia, yaitu kejang-kejang saat hamil, yang bisa menyebabkan kematian ibu dan anak,"ungkapnya.

Perokok, kencing manis, kegemukan itu merupakan jenis penyakit yang berkaitan erat dengan hipertensi. Meskipun masih berumur muda, namun mempunyai penyakit tersebut, maka kecenderungan terkena hipertensi akan lebih besar. Pencegahan yang paling awal adalah perubahan gaya hidup, seperti diet rendah garam, olah raga, hindari rokok, hindari kegemukan.

Bila terjadi hipertensi maka diberi obat hipertensi. Dan obat-obat hipertensi tersebut juga memiliki klasifikasi, dan titik tangkap yang berbeda. Di Indonesia disesuaikan juga dengan kondisi sosial ekonomi karena berkaitan dengan pengobatan seumur hidup. "Ada juga sebagian orang sudah menggunakan beberapa macam obat-obatan, tapi masih belum bisa terkontrol hipertensinya," katanya.

Hanya sebagian kecil dari penderita hipertensi di negara yang sedang berkembangdapat "terkontrol". Kurang lebih 8% saja, sisanya mengetahui menderita hipertensi tetapi tidak dapat mencapai target kontrolnya. Perlu diketahui bahwa pengelolaan yang baik hingga mencapai target control merupakan dasar dari pencegahan komplikasi-komplikasi lanjut yang lebih gawat.

 

(Red /CN33 )