image

Foto: Istimewa

10 Oktober 2017 | 16:39 WIB | Seni dan Budaya

Batik Khas Jogja Di-launching, Sultan Minta Jadi Trend Setter Mode Dunia

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com- Predikat Jogja sebagai Kota Batik Dunia yang diberikan oleh Dewan Kerajinan Dunia (World Craft Council/WCC) makin kukuh. Pada puncak peringatan HUT ke-261 Kota Jogja (7/10) malam, Walikota Jogja Haryadi Suyuti meluncurkan batik khas Jogja, batik motif Ceplok Segoro Amarto.

Gubernur DIY Hamengku Buwono X yang hadir pada acara tersebut berpesan untuk WaliKota Jogja. Pesan tersebut di antaranya agar bangunan heritage dibeli dan direnovasi, seni budaya tradisional dibukukan dan dibakukan untuk dikembangkan secara kreatif.

Lalu, seni kerajinan terutama batik dibuatkan museum untuk pembelajaran dan pengembangannya sebagai trend setter mode dunia. “Kantung-kantung budaya yang memuat tradisi memetri dihidupkan kembali di desa budaya dan desa wisata," pesan Sultan.

Gubernur DIY juga mengharapkan dialog-dialog budaya digalakkan di sanggar-sanggar budaya guna mengukuhkan kembali jati diri sebagai bangsa Maritim yang unggul. Monumen-monumen sebagai landmark kota juga diharapkan dihidupkan kembali dan dimanfaatkan dengan baik.

Sebelumnya, saat memberikan sambutan pada acara pembukaan Wayang Jogja Night Carnival di Tugu Jogja, Haryadi menguraikan filosofi batik motif  Ceplok Segoro Amarto tersebut. Motif Ceplok Segoro Amarto merupakan perpaduan dari berbagai motif batik yang sudah dikenal di antaranya gurdo, parang, truntum, kawung, semen dan logo gunungan Segoro Amarto.

Dijelaskannya batik Ceplok Segoro Amarto mengandung filosofi untuk menjaga wibawa dan menjunjung tinggi derajat manusia. "Pemerintahan yang bisa bertindak adil memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan penuh wibawa sehingga tercipta kesejahteraan masyarakat dan menjaga keharmonisan hidup," kata Haryadi.

Batik sebagai karya tradisional Indonesia, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kota ini. Selain memiliki seni tinggi serta sejarah tak ternilai, batik telah mampu memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat Kota Gudeg tersebut. 

Batik motif Ceplok Segoro Amarto diciptakan untuk mendukung dan memperkuat semangat gotong royong warga Yogyakarta. Juga sebagai simbol ajakan pada masyarakat Indonesia untuk bisa menggelorakan kembali semangat gotong royong.

Motif Baru

Batik ini pertama kali muncul dari perlombaan desain batik oleh Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) DIY tahun 2015. Para PNS di Kota Yogyakarta diwajibkan mengenakan motif batik ini sebagai seragam kerja mereka setiap Selasa dan Kamis. Namun pemerintah Kota Yogyakarta baru resmi meluncurkan dan memperkenalkan batik Ceplok Segoro Amarto kepada umum pada puncak HUT ke-261 ini.

Launching secara resmi tersebut juga ditandai dengan penyerahan batik motif baru kepada Gubernur DIY Hamengku Buwono X dan isteri GKR Hemas. Kain batik juga diberikan kepada beberapa kepala daerah lain yang hadir saat Wayang Jogja Night Carnival 2017 tersebut.

Puncak HUT 261 Kota Jogja juga dijadikan momentum oleh Haryadi Suyuti mengajak seluruh warga Jogja untuk bersama-sama membangun kota ini menjadi lebih baik lagi. Juga mengajak warga untuk tetap melestarikan budaya dan alam di Jogja agar nyaman untuk ditempati. 

Sedangkan Wayang Jogja Night Carnival 2017 diisi dengan penampilan tarian dan atraksi budaya dari warga 14 Kecamatan di Kota Jogja. Warga beramai-ramai menampilkan kostum serta mobil hias bertema tokoh wayang seperti Nakula, Sadewa dan Karno dalam karnaval yang digelar di sepanjang jalan Jendral Sudirman. Wayang karnaval dimulai pukul 18.00 WIB hingga 21.00 WIB.

Gubernur DIY Hamengku Buwono X saat menyampaikan sambutan mengajak warga untuk melakukan refleksi. Mulat sarira sudah sampai di manakah dalam mencapai tema  "Bersama Membangun Jogja." "Apakah sudah berada di tapak jalan lurus dengan tekad golong gilig menuju hamemayu hayuning bawana untuk membangun harmoni kehidupan kota dan warganya yang berkualitas?" ujar Sultan.

Menpar Arief Yahya juga mendukung Jogja menjadi kota batik. Budaya keraton dengan batiknya sangat kuat. “Itu harus dilestarikan! Semakin dilestarikan, semakin menyejahterakan,” jelas Arief Yahya.

Jogja, Solo, Pekalongan, adalah sentra batik sejak dulu. Motif dan warna dasarnya juga berbeda. Masing-masing punya karakter yang khas. “Solo Jogja itu membawa motif mataraman, sedang Pekalongan lebih ke pesisiran yang warnanya lebih berani,” ungkap Arief Yahya.

(Andika Primasiwi /SMNetwork /CN26 )