10 September 2017 | Bincang-bincang

Gayeng Semarang

Gagal Paham

  • Oleh Mudjahirin Thohir

KETIKAsaya berada di Nabire, pedalaman Papua, sejumlah kawan yang saat itu bertugas mengukur areal lahan untuk rencana pemukiman transmigran, tiba-tiba bergegas lari. Bahkan berlarian. Mengapa? Mereka melihat sejumlah orang pedalaman membawa parang mendekati. Orang-orang itu tanpa dikomando bertanya dalam bahasa campuran lokal yang kurang dimengerti. Suara mereka nyaring dan tinggi.

Melihat gelagat itu, teman-teman yang bukan antropolog memilih ”mengevakuasi diri” dengan berlari? Mudah ditebak, mereka panik dan meyakini orang-orang Papua bersuku Mee bertelanjang dada membawa parang itu akan melukai.

Benarkah begitu?

Salah sekali. Karena gagal paham atau pemahaman yang gagal, jalan keluar yang mereka pilih pun beragam. Ada yang ingin sembunyi. Ada yang melarikan diri. Ada yang ingin lapor polisi. Itu menggelikan.

Orang-orang Papua itu bertanya-tanya ketika melihat orang berlarian saat mereka menghampiri.

”Ada apa, Bapak? Mengapa mereka berlari? Apa ada bahaya, Bapak?” tanya”mereka secara beruntun kepada saya.

Saya tidak langsung menjawab, tetapi menawarkan rokok yang saya bawa dari Jawa. Tujuan saya untuk mencairkan suasana, dengan cara: menikmati rokok bersama.

Di tengah keakraban terdengar dering telepun. Siapa lagi jika bukan dari salah seorang yang berlarian itu. Dia minta izin saya untuk meminta bantuan polisi agar mengamankan orang-orang pedalaman Papua yang datang tadi.

Aduh! Ini gagal paham. Setiap kegagalan memahami keadaan, langkah yang ditempuh malah menjadi keruh. Tentu saya menertawakan kelakuan itu.

Orang-orang pedalaman Papua yang ke mana saja pergi membawa parang tidak untuk melukai orang. Dalam kepercayaan mereka, melukai, apalagi membunuh orang, akan menyebabkan diri terkena kutuk dan mati muda. Parang mereka bawa ke mana saja untuk memotong ranting pepohonan agar bisa berjalan tanpa terhalang saat memasuki hutan.

Mereka datang menemui kami, ingin tahu dan berkenalan dengan orang-orang baru. Mereka baik-baik saja. Kamu saja yang selalu curiga.

***

INGATANtentang kisah di pedalaman Papua itu secara sontak mengingatkan saya pada sebagian orang yang menanggapi tragedi kemanusiaan kasus Rohingya. Tanpa kajian, kecuali bersumber pada berita atau video yang diviralkan lewat media sosial, spontan mereka menyimpulkan: kasus Rohingya adalah fakta ada kebencian antarumat beragama. Dengan begitu, muncul dorongan berbalas dendam lewat bahasa agama. Jika tidak kepada penganut agaman, bisa pada bangunan ibadah yang digunakan.

Berkesimpulaan, apalagi menjalankan logika itu, amat berbahaya. Tidak menyelesaikan persoalan, tetapi justru memperumit keadaan. Agama pun dibawa-bawa.

Padahal kita tahu, tidak ada agama yang mengajarkan untuk menista. Jika para penista, misalnya, beragama Buddha dan orang-orang ternista beragama Islam, tidak berarti ajaran Buddha memusuhi ajaran Islam. Tidak pula orang Buddha disarankan memusuhi orang Islam.

Kita mesti berpikir dalam kejernihan. Mereka, para penista itu, sebetulnya sedang mengingkari ajaran agama mereka. Itu terbukti penganut Buddha, terutama di Indonesia, mengecam mereka.

Dibilang bukan kebencian antarumat beragama, mereka masih belum terima. Mereka bertanya, ”Kalau bukan ungkapan kebencian antarumat beragama, lalu apa?”

Nah, tentu banyak ragam penyebab. Menurut bahasa anak sekolah, butuh kajian akurat. Dalam dugaan sementara, berkait dengan kompetisi antaretnik dalam konteks kekuasaan atau sumber ekonomi dan lain-lain. Siapa berkepentingan apa, melawan siapa, dengan cara bagaimana, mengapa? Masih butuh pemahaman yang benar.

Jadi pikiran atau penyimpulan bahwa kasus Rohingya sebagai penistaan terhadap agama atau kebencian antarumat beragama, pasti gagal paham. Jika tidak, tentu paham yang disalahgunakan. Ada agenda lain yang disisipkan. Apalagi kalau cara menyikapi dengan membalas kebencian kepada umat Buddha di Indonesia.

Tindakan itu pasti mengeruhkan keadaan. Lagipula makin menguatkan alasan bagi kaum penindas untuk memperlakukan yang lemah kian kejam.

Karena itulah, memberi solusi atau terapi yang tepat harus tahu diagnosis. Begitu nasihat dokter yang berpengalaman. Diagnosis yang benar hanya mungkin jika memahami gejala penyakit secara benar. Jika tidak, yang terjadi adalah malpraktik.

Dalam bahasa ilmu sosial, malpraktik terjadi karena gagal paham. Kalau pahamnya sudah gagal, berjalan tanpa ujung. Mirip dengan ungkapan yang sering diucapkan Bung Zainal, ”Joko Sembung naik ojek. Nggak nyambung, Jack!”(44)