10 September 2017 | Yunior

Cerita Mini

Kendi Perca Koda

  • Oleh Artie Ahmad

Sudahhampir satu jam Koda berlatih merekatkan kain-kain perca di kendi tembikar. Namun usahanya selalu gagal. Kain-kain perca yang direkatkan menggunakan lem tak bisa menempel dengan baik. Bukannya bagus, kendi tembikar itu malah terlihat kacau. Tapi pagi ini Ibu Guru Ayati meminta Koda untuk mewakili sekolah di perlombaan kerajinan tangan tingkat kota. Semuanya serbamendadak.

Baru tadi pagi Ibu Guru Ayati memintanya maju lomba untuk esok hari. ”Ma, besok Koda tidak berangkat lomba saja deh. Soalnya sulit banget ternyata,” ucap Koda ketika dia sudah lelah berlatih merekatkan kain perca ke permukaan kendi. ”Kok begitu? Sekarang masih ada waktu untuk berlatih. Besok Mama yang antar Koda berlomba. Sekarang jangan menyerah dulu dong. Kalau menyerah, nanti jadi mirip kancil pemalas di buku dongeng yang Koda baca kemarin,” kata Mama sembari tersenyum. Koda mengejap-ejapkan kedua matanya.

Dia tidak mau menjadi kancil pemalas yang selalu melupakan tugas-tugasnya. Suara teman-temannya yang sedang bermain bola di lapangan seberang jalan terdengar, tapi Koda tidak berniat ikut bermain. Perlahan Koda menempelkan satu per satu kain perca ke kendi tembikar. Keringatnya bercucuran, sedikit demi sedikit kendi itu mulai tertutupi lembaran kain-kain perca.

***

Dada Koda berdebar-debar ketika melihat banyaknya peserta lomba kerajinan tangan tingkat kota. Di sebuah ruangan yang cukup luas itu, Koda berlomba dengan peserta lainnya dalam menghias kerajinan tangan. Banyak sekali ide kerajinan tangan yang dibawakan para peserta lomba. Meski sedikit gugup, Koda tetap berusaha sebaik mungkin merekatkan kain-kain perca itu. Kendi tembikar yang awalnya polos terlihat semarak dengan warna-warna dari kain perca yang direkatkan Koda dengan lem.

Setelah lomba selesai, Koda menunggu pengumuman siapa saja yang menang dalam lomba dengan sedikit cemas. Dengan gelisah Koda mengintip para juri yang sedang menilai karya para peserta lomba dari jendela. ”Kalah menang tidak masalah, Koda. Yang penting Koda sudah berani ikut lomba ini,” bisik Mama pelan. Koda hanya mengangguk perlahan. Dari kejauhan dia melihat Ibu Guru Ayati yang sedang berbincang dengan guru dari sekolah lain.

Sesekali Ibu Ayati melihat ke arahnya. Melihat senyum ibu guru itu, Koda tahu kalau Mama benar. Yang terpenting adalah Koda sudah berani datang untuk ikut lomba, tidak melarikan diri seperti idenya kemarin. Pengumuman para pemenang lomba ditempel juri di papan pengumuman. Berbondong-bondong para guru dan orang tua murid yang mengantar berdesakan ingin membaca.

Mama dan Ibu Guru Ayati juga turut melihat pengumuman. ”Juara tiga. Selamat ya, Koda. Kendi percamu merebut hati juri,” ujar Ibu Guru Ayati setelah membaca hasil pengumuman lomba. Koda tersenyum bahagia, latihannya seharian kemarin tidak siasia. Kini Koda tahu, yang terpenting adalah mencoba, berusaha, dan tidak lari meninggalkan tanggung jawabnya.( 58)