13 Oktober 2017 | Ekonomi - Bisniss

Era Digital Tuntut Pelaku Usaha Berinovasi

SEMARANG- Pesatnya perkembangan di era digital menuntut pelaku usaha untuk terus berinovasi. Hal itu harus dilakukan sebagai kunci pertumbuhan. Head of SME Business Bank Tabungan Pensiun Nasional (BTPN), Sonny Christian Joseph mengatakan, berbagai peluang dan tantangan akan dihadapi para pelaku ekonomi pada tahun mendatang. Maka, inovasi adalah kunci pertumbuhan. ‘’Dunia digital membuat bisnis turun, tapi ada juga bisnis baru yang muncul dari perkembangan dunia digital. Sehingga, yang diperlukan pelaku usaha adalah untuk terus berinovasi,’’ ungkap Sonny pada acara Entrepreneur Networking Forum bertajuk ”Outlook Perekonomian 2018: Mengoptimalkan Potensi Daerah dalam Era Digital’’ di Hotel Aston Semarang, Rabu (11/10) lalu.

Sonny mengungkapkan, pihaknya juga terus melakukan inovasi untuk memenuhi kebutuhan para nasabah. Salah satunya dengan menghadirkan BTPN Mitra Bisnis, yaitu unit usaha yang dirancang khusus untuk melayani berbagai kebutuhan dari para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) melalui solusi keuangan yang dapat diandalkan, pengembangan kapasitas usaha, dan pembukaan akses ke pasar yang lebih luas. ‘’BTPN Mitra Bisnis hadir dengan berbagai produk dan layanan perbankan untuk menunjang kebutuhan usaha modal kerja dan investasi usaha nasabah. Selain produk dan layanan terkait pembiayaan, BTPN Mitra Bisnis juga hadir dengan dukungan solusi nonkeuangan untuk membantu nasabah mengembangkan kapasitasnya dalam menjalankan usaha,’’ tuturnya.

Lebih Baik

Sementara itu, Ekonom Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Dr Sri Sulandjari memprediksi kondisi perekonomian di Jawa Tengah (Jateng) pada tahun depan akan lebih baik meski memasuki tahun politik. ”Jateng masih menumbuhkan peluang pasar sektor UKM. Hanya saja, beban UKM kan di permodalan dan akses pasar yang kurang kuat. Ini yang harus diperhatikan,” katanya.

Menurut dia, perusahaan- perusahaan besar di era digital akan berhubungan langsung dengan UKM dalam pasokan barang sehingga harus menjadi penghela yang adil untuk menjaga keberlangsungan produksi kalangan UKM. ‘’Begini, hambatan yang juga sering dialami UKM ketika bermitra dengan distributor kan pembayaran yang mundur, bisa dua-tiga bulan. Ini yang membuat mereka kelabakan mempertahankan proses produksinya,’’ katanya.

Secara umum, lanjut dia, pertumbuhan ekonomi dalam negeri, terutama di Jateng akan cukup tinggi dibanding daerah-daerah lain pada 2018, kecuali Sumatera yang akan menunjukkan pertumbuhan lebih tinggi dari sebelumnya. ‘’Untuk Jateng, pertumbuhannya di kisaran 5,18%, sementara nasional 5,01%. Didukung sektor pertanian, sektor pariwisata. Wisatawan domestik dan mancanegara kan banyak yang masuk ke Jateng,’’ katanya.(K3-55)