13 Oktober 2017 | Ekonomi - Bisniss

Indonesia-Australia Jajaki Bea Masuk Nol Persen

JAKARTA- Indonesia dan Australia sedang menjajaki kerja sama bilateral untuk pemberlakuan tarif bea masuk nol persen terhadap tiga komoditas unggulan dari masing-masing negara.

Upaya yang terkait dalam Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia itu diharapkan memacu pertumbuhan industri kedua negara melalui perluasan pasar ekspor. ‘’Kami akan pelajari terlebih dahulu, karena ini merupakan pembahasan dari implementasi free trade agreement. Jadi, harus diperhitungkan keuntungan dan kerugiannya,’’ kata Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, seusai menerima Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson, di Jakarta, Kamis (12/10).

Airlangga menyampaikan, Australia meminta kepada Indonesia agar tiga komoditasnya bisa bebas bea masuk, yaitu susu skim, katoda tembaga, dan baja. Sebagai gantinya, Australia memberi tawaran bea masuk nol persen untuk tiga komoditas potensial Indonesia. ”Mereka menawarkan untuk ditukar dengan tekstil, alas kaki, dan pakaian jadi, yang bea masuknya juga menjadi nol persen,’’ ujarnya.

Menurut Airlangga, pembebasan bea masuk tersebut menjadi peluang besar bagi industri Indonesia untuk terus tumbuh dan berkembang. Misalnya, di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT). ‘’Saat ini, Tiongkok dan Vietnam sudah dikenakan bia masuk nol persen, sedangkan ekspor produk tekstil Indonesia ke Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa masih kena bea masuk 5%-20%. Dengan pembebasan bea masuk ini, industri kita akan semakin kuat,” ungkapnya.

Daya Saing

Airlangga berharap, kolaborasi itu dapat lebih meningatkan daya saing dan produktivitas bagi sektor manufaktur nasional melalui penyediaan bahan baku berkualitas. Pasalnya, selama ini Indonesia masih banyak dikenakan tarif bea masuk ke pasar tradisional seperti AS dan Uni Eropa. ‘’Ini karena kita punya daya saing tinggi, sehingga mereka pasang barikade juga,’’jelasnya.

Airlangga mengungkapkan, industri TPT nasional mampu menunjukkan daya saingnya di tingkat global. Pasalnya, sektor andalan ini telah terintegrasi dari hulu sampai hilir dan produknya dikenal memiliki kualitas yang baik di pasar internasional. ‘’Khusus untuk industri shoes and apparel sport, kita sudah melewati Tiongkok. Bahkan, di Brasil, kita sudah menguasai pasar di sana hingga 80%,’’ kata Airlangga.

Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Harjanto mengemukakan, pihaknya tidak akan langsung menyetujui usulan Australia tersebut. Sebab, diperlukan perhitungan yang komprehensif agar bisa saling menguntungkan. Harjanto mengusulkan, Australia bisa menggunakan skema user specific duty free scheme. Artinya, preferensi tarif nol persen dapat diberikan jika ada investasi yang masuk. Dengan demikian, masih ada nilai tambah dan Indonesia bisa melakukan ekspor ke negara lain. ”Bahan baku boleh saja dari mereka ke kita, akan tetapi investasi harus masuk sehingga ada transfer teknologi. Dengan begitu walaupun kita masih impor bahan baku, tetapi memiliki kemungkinan untuk ekspor produk turunannya,” tuturnya.

Australia merupakan salah satu negara sumber investasi bagi Indonesia. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) periode 2010-2015 menunjukkan realisasi investasi 2,1 miliar dolar AS terdiri atas investasi di sektor pertambangan, kimia dasar, dan infrastruktur. Dari komitmen investasi, tercatat sebesar 7,7 miliar dolar AS dari sektor industri logam, properti, dan sektor peternakan.(sb,ant-55)