13 Oktober 2017 | Solo Metro

THR Akan Ditutup

SOLO- Setelah terhibur sementara waktu dengan jawaban Pemkot Surakarta yang mengizinkan Taman Jurug bisa dijadikan operasional baru, akhir Agustus lalu manajemen Taman Hiburan Rakyat (THR) Sriwedari mendapat kepastian final atas surat permohonannya sewa kontrak di kawasan Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ).

Taman rekreasi di kawasan Taman Sriwedari itu akhirnya benarbenar akan berpisah dengan masyarakat Kota Bengawan, karena tidak sanggup menerima beberapa persyaratan sewa kontrak yang dinilainya sangat berat atau sulit diwujudkan. ”Kami benar-benar seperti putus jantung mendengar jawaban itu. Tetapi kami maklum, ternyata aturannya memang begitu. Kami memilih mundur, karena tidak sanggup mewujudkan beberapa persyaratan yang kami nilai sangat berat. Rupanya, kami memang benar-benar akan berpisah,” ujar Sinyo Sudjarkasi (74) menjawab pertanyaan para wartawan di kompleks perkantoran setempat, kemarin.

Didampingi beberapa unsur manajemen setempat, Direktur Utama PT Semarang Arsana Rekreasi Trusta (Smart) itu menjelaskan soal keputusan terakhir yang diterimanya dari Pemkot Surakarta melalui sekretaris daerah mengenai proposal yang diajukannya.

Secara prinsip, kontrak sewa di kawasan TSTJ itu diizinkan dan sejumlah persyaratan diajukan, di antaranya soal nilai sewa lahan seluas kurang lebih 2 hektare itu dan masa waktu sewa yang dibatasi hanya 4 tahun. Terhadap beberapa hal yang dianggap memberatkan, pihak manajemen berusaha berdialog dengan jajaran Pemkot mulai Wali Kota hingga Dirut Perusda TSTJ.

Intinya manajemen ingin meminta keringanan pajak tontonan dan mainan/wahana, nilai sewa lahan dan waktu masa kontrak yang lebih panjang atau yang rasional untuk sebuah usaha jasa hiburan yang menginventasikan modal miliaran rupiah. Namun, lanjut Sinyo, karena semua itu sudah menjadi bagian dari peraturan daerah (Perda) soal investasi di bidang jasa hiburan yang tidak mungkin diubah atau memberi perkecualian, akhirnya pihak manajemen memutuskan mundur. Selain pajak untuk dua item tersebut, nilai sewa yang dihitung sehari Rp 1.000 untuk tiap meter lahan dinilai sangat berat, terlebih masa kontrak sewa dibatasi hanya 4 tahun. ”Pendapatan kami di sini rata-rata sekitar Rp 400 juta.

Padahal sewa lahan itu sebulannya sudah sekitar Rp 600 juta. Melihat itu saja sudah tidak mungkin. Seandainya nekat berani mengambil (kontrak 4 tahun), kecil kemungkinannya modal kembali. Setelah 4 tahun habis kontrak, belum tentu bisa diperpanjang. Mohon maaf, itu syarat yang sangat berat bagi kami. Lebih baik kami mundur. Batal,” tegas Sinyo.

Berkait dengan itu, semua yang sudah disiapkan dengan asumsi per 1 Januari 2018 langsung beroperasi di Taman Jurug dengan nama baru THR Bengawan Solo, sirna sudah. Semua rencana batal, hasil-hasil kesepakatan dialog dengan kalangan komunitas pengisi acara reguler di THR. Rupanya, perayaan ultah 32 tahun THR pada 31 Maret lalu menjadi sinyal perpisahan, karena THR akan benar-benar berpisah dengan wong Solo.(won-20)