image

SM/AFP - KIBARKAN BENDERA: Warga Palestina mengibarkan bersama bendera Mesir, Palestina, Fatah, dan Hamas saat merayakan kesepakatan mengakhiri perpecahan di Kota Gaza, Kamis (12/10).(24)

13 Oktober 2017 | Berita Utama

Hamas dan Fatah Berdamai

KAIRO- Satu dasawarsa perselisihan antara dua faksi Palestina berakhir, Kamis (12/10). Dalam perundingan yang diprakarsai Mesir, faksi Hamas dan Fatah menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri perselisihan tersebut.

Presiden Palestina Mahmud Abbas menyebut kesepakatan yang dicapai di Kairo itu sebagai ”final”. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Otoritas Palestina yang bermarkas di Tepi Barat bakal kembali mengambil alih kendali penuh atas Jalur Gaza yang dikuasai Hamas pada 1 Desember mendatang. Abbas menyambut baik kesepakatan itu. Dia menganggapnya sebagai kesepakatan final untuk mengakhiri perpecahan, meski banyak rincian masih dibahas dan upaya-upaya rekonsiliasi sebelumnya selalu gagal.

Kesepakatan tersebut ditandatangani di Kairo oleh wakil pemimpin Hamas, Salah al-Aruri, dan Azzam al-Ahmad, ketua delegasi Fatah dalam perundingan tersebut. Negosiasi-negosiasi kini akan difokuskan pada pembentukan pemerintah persatuan. Berbagai gerakan politik Palestina akan diundang dalam pertemuan lain di Kairo pada 21 November mendatang.

Perubahan Besar

Mesir berulang kali menjadi penengah untuk mendamaikan kedua kelompok ini dan membentuk pemerintahan persatuan di Gaza dan Tepi Barat. Hamas dan Fatah sepakat untuk membentuk pemerintahan rekonsiliasi nasional pada 2014, tetapi pemerintah bayangan Hamas terus memegang kekuasaan di Jalur Gaza. ”Kami mengucapkan selamat kepada warga Palestina atas kesepakatan rekonsiliasi yang dicapai di Kairo.

Kami akan berusaha keras menerapkannya agar halaman baru dalam sejarah rakyat kami bisa dimulai,” kata Hazem Qassem, juru bicara Hamas, kepada Reuters. Partai Fatah yang didukung negara-negara Barat kehilangan sebagian kekuasaan di Gaza dari Hamas dalam perang saudara pada 2007. Bulan lalu, kelompok Hamas yang dianggap sebagai kelompok teroris oleh Barat dan Israel setuju untuk menyerahkan kekuasaan di Gaza pada Pemerintah Presiden Mahmud Abbas yang didukung Fatah.

Langkah Hamas ini merupakan perubahan besar bagi Hamas, yang sebagian disebabkan oleh kekhawatiran kelompok ini akan isolasi dari sisi keuangan dan politik setelah Qatar, yang menjadi pendukung utama, terlibat dalam krisis politik dengan sekutu-sekutunya.

Delegasi kedua kelompok ini berada di Kairo untuk membicarakan rincian penyerahan kekuasaan di Gaza termasuk keamanan di wilayah itu dan pintu perbatasan. Kesepakatan ini mengatur bahwa tiga ribu tentara keamanan Fatah akan bergabung dengan kepolisian Gaza. Meski demikian Hamas masih akan memegang kendali atas faksi bersenjata Palestina yang kuat.

Faksi militer ini terdiri atas 25 ribu pejuang bersenjata yang sudah terlibat tiga kali perang dengan Israel sejak 2008. Kedua kelompok ini berharap usul pengerahan tentara keamanan dari Otoritas Palestina yang dipimpin Fatah ke perbatasan Gaza akan mendorong Mesir dan Israel mengendorkan pembatasan di pos perbatasan. Langkah pengendoran pembatasan oleh kedua negara itu sangat dibutuhkan agar perekonomian Gaza kembali menggeliat.(bbc,afp,rtr-niek-23)